Selasa, 12 Januari 2016

Dayah Ule Titi

1

Pria-pria muda berjalan mendekap kitab, mereka memburu keluar kelas menjelang masuknya waktu ashar, sepertinya baru saja selesai pengajian, seratusan pria lain keluar dari mushalla, sebagian meninggalkan kitab didinding teras.

Begitulah suasana Dayah Ule Titi di jalan Blang Bintang, letaknya sekitar 12 kilo meter di arah barat Banda Aceh, semula Dayah ini terletak persis di ujung jembatan Lambaro, kemudian dengan adanya perluasan Krueng Aceh pada tahun 1987, dipindahkan ke lokasi sekarang.

Dayah Ule Titi memiliki sekitar 1750 santri, dengan rincian 750 santri pria dan lebih 1000 santri wanita, mereka belajar diasuh oleh 120 guru, demikian dijelaskan Ketua Umum Yayasan Dayah Ule Titi Tgk.Muhammad Rizal (Abu Cut).

Pimpinan pertama Dayah adalah Abu Syeh Saman, diperkirakan seorang ulama yang datang dari jazirah Arabia, beliau merintis Dayah Ule Titi milik masyarakat Lambaro di zaman penjajahan Belanda.

Pengajian di Dayah kemudian mengalami kemunduran, tidak diketahui pasti apa penyebabnya, sebagian memperkirakan karena kondisi perang atau konflik sosial di dalam masyarakat, begitu penjelasan Abu Cut.

Dayah Ule Titi dilanjutkan oleh generasi kedua Abu Ishak Al Amin Meunasah Kumbang dari Aceh Utara, kemudian berlanjut kepada Abu Athailah yang kini menjadi pimpinan Dayah.

Dibawah bimbingan Abu Atahailah, Dayah Ule Titi membuka 9 tingkatan kelas pengajian, dimulai dengan kelas 0 atau kelas Tajhizi untuk mereka yang mulai mengaji, dan belajar kitab-kitab Jawo yang masih memiliki baris, kemudian kelas 1-7 belajar kitab yang lebih tinggi dalam bahasa Arab tanpa baris.

Pada kelas Tajhizi hingga kelas 7 masih dibimbing oleh para guru yang berjumlah 120 orang, namun setelah naik ke kelas 8, pengajian langsung dibawah bimbingan Abu Athailah, mulai saat itu tidak ada lagi kenaikan kelas, pengajian terus dilakukan selama masih mondok di Dayah Ule Titi.

Selama mengikuti pengajian, para santri diwajibkan dengan peraturan yang sangat ketat, mereka tidak boleh keluar Dayah, karenanya di dekat pintu masuk Dayah dibangun sebuah pos jaga, setiap yang masuk dan keluar harus melapor pada petugas jaga, mereka juga tidak boleh merokok, membawa hand phone dan membawa kenderaan.

Peraturan ketat itu akan sirna ketika para santri telah duduk pada kelas 8, mereka sudah boleh keluar dan menggunakan HP, juga merokok sudah diperbolehkan, ke istimewaan kelas 8 ini di sebabkan para santri umumnya telah masuk dalam usia dewasa, sebagian sudah diangkat menjadi guru untuk para santri di kelas 0 hingga 7 oleh pimpinan Dayah.

Abu Cut menjelaskan, Dayah Ule Titi mengadakan kelas Tajhizi untuk memberi waktu yang lama kepada para santri dalam belajar kitab, mereka belajar kitab yang masih berbaris dahulu di kelas Tajhizi agar nanti tidak kaget lagi ketika masuk ke tahab kitab tanpa baris.

Kelas Tajhizi ini dimaksudkan untuk memperpanjang waktu belajar kitab tanpa baris, karena ketika masuk pada kelas I juga masih belajar kitab tanpa baris, kelas Tajhizi memiliki 4 lokal, setiap lokal diasuh oleh 5 orang guru.

Para santri yang masuk ke kelas Tajhizi umumnya telah menyelesaikan pendidikan pada Sekolah Dasar (SD), tetapi itu tidak harus, mereka yang sudah dewasa juga boleh masuk pada kelas Tajhizi sebagai kelas pemula di Dayah Ule Titi.

Untuk masuk kelas Tajhizi, para santri di uji membaca al qur,an secara baik, kalau tidak lulus, mereka tetap di terima, dan diarahkan ke anak cabang Yayasan Dayah Ule Titi yang lain, saat ini sudah memiliki 36 cabang diseluruh Aceh, demikian Abu Cut.

Pelajaran yang diberikan pada kelas Tajhizi para santri mulai belajar Qur,an, fiqih, tauhid, tasawuf, kitab-kitab alat (nahu +syaraf), qira,ah, lauradh, sejarah nabi, kitab ahlak dan kitab melayu lainnya.

Kelas selanjutnya belajar kitab yang lebih tinggi, seperti kitab matan taqrib untuk kelas I, kitab Bajuri untuk kelas II, kitab Iyannah (jilid 1-2) untuk kelas III, kitab Iyannah (jilid 3-4) untuk kelas IV, kitab Mahali untuk kelas V, kelanjutan kitab Mahali untuk kelas VI, melanjutkan kembali kitab Mahali untuk kelas VII.

Pada kelas VIII para santri yang sebagian mereka sudah menjadi guru untuk kelas dibawahnya, sudah belajar kitab tinggi seperti Fathul Wahab dan Bujairimi dibawah bimbingan langsung Abu Athailah. Sebuah kelas khusus juga dibuka untuk masyarakat yang belajar pada malam hari.

Manyoritas santri yang belajar pada Dayah Ule Titi berasal dari Aceh, sebagian dari luar daerah dan ada yang berasal dari Malaysia, para santri yang berasal dari Malaysia sebelumnya mencapai 1 kabilah, namun kini hanya tinggal 3 orang lagi, mereka kembali ke negaranya karena kondisi konflik di Aceh, jelas Abu Cut.

Sekarang banyak tamu Malaysia sering datang ke Dayah Ule Titi, mereka punya rencana untuk membawa santri ke Dayah Ule Titi, jelas Tgk.Muhammad Rizal.

Secara keseluruhan Dayah Ule Titi memiliki asrama putra dan asrama putri, dengan jumlah bilik 135 buah, setiap bilik mampu menampung 4-16 santri, memiliki 23 lokal, 7 buah bale beut dan sebuah mushalla yang juga difungsikan untuk kelas mengaji, karenanya terkadang pengajian di mushalla dilakukan di pojok-pojok, sesekali bila ada santri yang ingin membaca lebih keras bias saja mengusik kelas lainnya di pojok lain.
Syukran...

1 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com