Jumat, 13 Maret 2015

about history Syech Muda Waly al-Khalidy

0

Bismillahirrahmanirrahim.
Syech Muda Waly
Syech Muda Waly al-Khalidy An-Naqsyabandy Al-Asyiy atau lebih dikenal Syech Muda Waly Al khalidy dilahirkan di Desa Blang Poroh Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan pada tahun 1917. Beliau adalah putra bungsu dari Syech H. Muhammad Salim bin Malin Palito. Ayah beliau berasal dari Batu sangkar, Sumatra Barat. Beliau datang ke Aceh Selatan awalnya dengan maksud sebagai da’i. Sebelumnya, paman beliau yang masyhur dipanggil masyarakat Labuhan Haji dengan Tuanku Peulumat yang nama aslinya Syech Abdul Karim telah lebih dahulu menetap di Labuhan Haji.
Tak lama setelah Sheikh Muhammad salim menetap di Labuhan Haji, beliau dijodohkan dengan seorang wanita yang bernama Siti Janadat, putri seorang kepala desa yang bernama Keuchik Nya` Ujud yang berasal dari Desa Kota Palak, Kecamatan Labuhan Haji Aceh Selatan. Siti Janadat meninggal dunia pada saat melahirkan adik dari Syech Muda Waly. Beliau meninggal bersama bayinya. Syech Muhammad salim sangat menyayangi Syech Muda Wali melebihi saudaranya yang lain. Kemana saja beliau pergi mengajar dan berdakwah Syech Muda Waly selalu digendong oeh ayahnya. Mungkin Syech Muhammad Salim telah memiliki firasat bahwa suatu saat anaknya ini akan menjadi seorang ulama besar, apalagi pada saat Syech Muda Waly masih dalam kandungan, beliau bermimpi bulan purnama turun kedalam pangkuannya. Nama Syech Muda Waly pada waktu kecil adalah Muhammad Waly.
Pada saat beliau berada di Sumatra Barat, beliau dipanggil dengan gelar Angku Mudo atau Angku Mudo Waly atau Angku Aceh. Setelah beliau kembali ke Aceh masyarakat memanggil beliau dengan Teungku Muda Waly. Sedangkan beliau sering menulis namanya sendiri dengan Muhammad Waly atau lengkapnya Syech Haji Muhammad Waly Al-Khalidy.
Perjalanan pendidikannya Syech Muda Waly belajar Al-Qur’an dan kitab-kitab kecil tentang tauhid, fiqh, dan dasar ilmu Bahasa Arab kepada ayahnya. Di samping itu beliau juga masuk sekolah Volks-School yang didirikan oleh Belanda. Setelah tamat sekolah Volks School, beliau dimasukkan ke sebuah pesantren di Ibukota Labuhan Haji, Pesantren Jam’iah Al-Khairiyah yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Ali yang dikenal oleh masyarakat dengan panggilan Teungku Lampisang dari Aceh Besar sambil beliau sekolah di Vervolg School. Setelah lebih kurang 4 tahun beliau belajar di pesantren Al-Khairiyah beliau diantarkan oleh ayahnya ke pesantren Bustanul Huda di Ibukota Kecamatan Blangpidie. Sebuah pesantren Ahlussunnah wal jama’ah sama seperti Pesantren Al-Khairiyah, yang dipimpin oleh seorang ulama besar yang datang dari Aceh Besar, Syekh Mahmud. Di pesantren Bustanul Huda, barulah beliau mempelajari kitab-kitab yang masyhur di kalangan ulama Syafi’iyah seperti I’anatut Thalibin, Tahrir, dan Mahally dalam ilmu fiqh, Alfiyah dan Ibn ‘Aqil dalm ilmu Nahwu dan sharaf. Setelah beberapa tahun di Pesantren Bustanul Huda, terjadilah satu masalah antara beliau dengan gurunya, Teungku Syech Mahmud. Yaitu perbedaan perdapat antara beliau dengan gurunya tersebut tentang masalah berzikir dan bershalawat sesudah shalat di dalam masjid secara jahar.
Di kemudian harinya Syech Muda Waly ingin melanjutkan pendidikan ke pesantren lainnya di Aceh Besar, tetapi sebelumnya, ayah Syech Muda Waly, Haji Muhammad Salim meminta izin kepada Syech Mahmud, minta do’anya untuk dapat melanjutkan pendidikan ke pesantren lainya dan yang terpenting meminta maaf atas kelancangan Syech Muda Waly berbeda pendapat dengan gurunya dalam masalah tersebut. Berkali-kali beliau dan ayahnya meminta ma’af kepada Syech Mahmud tetapi beliau tidak menjawabnya. Pada akhirnya setelah beliau kembali dari Sumatra Barat dan Tanah suci, Makkah, maka timbullah kasus di Kecamatan Blangpidie. Ada seorang ulama dari kaum Muda dari PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) yang bernama Teungku Sufi, mendirikan Madrasah Islahul Umum di Susuh, Blangpidie, berda’wah dan membangkitkan masalah-masalah khilafiyah.
Dalam satu perdebatan terbuka di Ibukota Kecamatan Blangpidie, dia mengungkapkan dalil dan alasannya sehingga hampir kebanyakan ulama termasuk Teungku Haji Muhammad Bilal Yatim dapat dikalahkan. Tetapi pada waktu giliran perdebatan Teungku Sufi tersebut dengan Syech Muda Waly semua dalil dan alasannya beliau tolak, beliau hancurkan tembok-tembok alasannya sehingga kalah total di depan umum. Tak lama setelah itu barulah Syech Mahmud memaafkan kesalahan Syech Muda Waly yang berani berbeda pendapat dengan gurunya tersebut pada waktu masih belajar di Bustanul Huda. Setelah beberapa tahun belajar di Bustanul Huda, beliau mengungkapkan niatnya untuk melanjutkan pendidikannya ke pesantren di Aceh Besar kepada ayahnya, Syech H. Muhammad Salim. Ayah beliau sangat senang mendengarkan niat beliau. Apalagi Syech H. Muhammad Salim telah mengetahui bahwa putranya ini telah menamatkan kitab-kitab agama yang dipelajari di Pesantren Bustanul Huda.
Sebagai bekal dalam perjalanan beliau dari Labuhan Haji, ayahanda beliau memberikan sebuah kalung emas yang tidak lain merupakan milik kakak kandung Syech Muda Waly, yaitu Ummi Kalsum. Beliau diantar oleh ayahanda beliau dari desanya sampai ke Kecamatan Manggeng. Setelah sampai ke Manggeng, ayahanda beliau berkata ”Biarkan aku antarkan engkau sampai ke Blangpidie”. Sesampainya di Blangpidie, Syech Muhammad Salim berkata kepada putranya, Syech Muda Waly ”biarkan aku antarkan engkau sampai ke Lama Inong”. Pada kali yang ketiga ini Syech Muda Waly merasa keberatan, karena seolah-olah beliau seperti tidak rela melepaskan anaknya merantau jauh untuk menuntut ilmu.
Syech Muda Waly berangkat ke Aceh Besar ditemani seorang temannya yang juga merupakan tamatan dari pesantren Bustanul Huda, namanya Teungku Salim, beliau merupakan seorang yang cerdas dan mampu membaca kitab-kitab agama dengan cepat dan lancar. Sesampainya di Banda Aceh, beliau berniat memasuki Pesantren di Krueng Kale yang dipimpin oleh Syekh H. Hasan Krueng Kale, ayahanda dari Syech H. Marhaban, menteri muda pertanian Indonesia pada masa Soekarno. Beliau sampai di Pesantren Krueng Kale pada pagi hari, pada saat syech Hasan Krueng Kale sedang mengajar kitab-kitab agama. Di antara kitab yang dibacakan adalah kitab Jauhar Maknun. Syech Muda Waly mengikuti pengajian tersebut. Sebelum Dhuhur selesailah pembacaan kitab tersebut, dengan kalimat terakhir Wa huwa hasbi wa ni’malwakil. Setelah selesai pengajian Syech Muda Waly merasa bahwa syarahan-syarahan yang diberikan oleh Syech Hasan Krueng Kale tidak lebih dari pengetahuan yang beliau miliki dan apabila beliau membacakan kitab tersebut maka beliau juga akan sanggup menjelaskan seperti syarahan yang dipaparkan oleh Syech Hasan Basri. Walaupun demikian beliau tetap menganggap Syech Hasan Krueng Kale sebagai guru beliau. Bagi Syech Muda Waly, cukuplah sebagai bukti kebesaran Syech Hasan Krueng Kale, apabila guru beliau Syech Mahmud Blang Pidie adalah seorang alumnus Pesantren Kurueng Kale. Syech Muda Waly hanya satu hari di Pesantren krueng Kale. Beliau bersama Tengku Salim mencari pesantren lain untuk menambah ilmu. Akhirnya merekapun berpisah. Pada saat itu ada seorang ulama lain di Banda Aceh yaitu Syech Hasballah Indrapuri, beliau memiliki sebuah Dayah di Indrapuri. Pesantren ini lebih menonjol dalam ilmu Al-Qur’an yang berkaitan dengan qiraat dan lainnya. Syech Muda Waly merasakan bahwa pengetahuan beliau tentang ilmu Al-Qur’an masih kurang. Inilah yang mendorong beliau untuk memasuki Pesantren Indrapuri.
Sekian dari saya......
Syukran>>>>
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com