Senin, 11 Agustus 2014

kisah ulama

1



MEULABOH - Aceh kehilangan lagi seorang ulama kharismatik dan menjadi panutan umat. Abuya HM Nasir Waly Lc, Pimpinan Dayah Serambi Mekkah Meulaboh yang juga Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Barat mengembuskan napas terakhir, Sabtu (6/2) pagi sekitar pukul 05.45 WIB di Rumah Sakit Bunda, Medan akibat sakit yang dideritanya. Putra ulama besar Syech Abuya Muda Waly Al-khalidi ini meninggal dalam usia 58 tahun. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun. Seperti diberitakan selama ini, sejak akhir 2009, Abuya Nasir Waly harus bolak-balik Aceh-Penang untuk berobat penyakit darah manis yang dideritanya. Selama beberapa waktu, kondisi kesehatan Abuya sempat membaik. Namun pada 20 Januari 2010, kesehatan Abu Nasir memburuk lagi sehingga pihak keluarga membawa ke Medan dan dirawat di Rumah sakit Malahayati. “Dari 20 sampai 26 Januari 2010, Abuya dirawat di RS Malahayati. Karena tak ada tanda-tanda membaik, sempat dibawa ke pengobatan herbal (alternatif) di Medan,” kata Tgk Harmen Nuriqmar, menantu Abuya Nasir Waly yang dihubungi  Serambi, tadi malam.

Selama tiga hari menjalani pengobatan alternatif, kondisi Abuya ada perubahan yang cukup berarti. Tetapi pada hari keempat, tiba-tiba down lagi, sehingga kembali masuk rumah sakit. Pada Jumat (5/2) malam sekitar pukul 21.00 WIB, Abuya yang semakin parah dilarikan ke ICU Rumah Sakit Bunda, Medan. Berdasarkan analisa medis yang dilakukan tim dokter Rumah Sakit Bunda, Abuya menderita kanker hati yang sudah pada tahap stadium parah. “Setelah dirawat sejak pukul 21.00 WIB, Jumat (5/2), akhirnya pada Sabtu (6/2) subuh sekitar pukul 05.45 WIB, Abuya berpulang ke Rahmatullah,” ujar Tgk Harmen.

Informasi tambahan yang diterima Serambi dari Tgk Zulfahmi, Humas Dayah Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan menyebutkan, jenazah Almarhum Abuya Nasir Waly diberangkatkan dari Medan sekitar pukul 08.00 WIB, kemarin. Berdasarkan kesepakatan pihak keluarga, ulama, dan berbagai kalangan lainnya, disepakati jenazah Abuya dimakamkan di Kompleks Pesantren Serambi Mekkah, Desa Blang Beurandang, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh, Aceh Barat. Dalam perjalanan dari Medan ke Aceh, jenazah Abuya Nasir Waly, tadi malam sempat disinggahkan di Bakongan untuk pelaksanaan shalat ghaib di Pesantren Ashabul Yamin (Abu Adnan Bakongan). Selanjutnya, disinggahkan juga di Pesantren Darussalam, Labuhan Haji untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Meulaboh.

 Putra ulama besar
Abuya HM Nasir Waly, kelahiran Labuhan Haji, Aceh Selatan 8 Agustus 1952. Beliau merupakan salah satu dari 14 bersaudara, putra ulama besar Aceh, Abuya Syech Muda Waly Al-khalidi, pendiri dan pemimpin Pesantren Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan. Dari 14 bersaudara tersebut, HM Nasir Waly merupakan anak ke-6 dari ibu ketiga. Ke-14 putra-putri Syech Muda Wali Al-Chalidi masing-masing, Prof Dr Muhibbuddin Waly, Ummi Halimah, KH Mawardy Waly, Abuya Jamaluddin Waly, Abuya Amran Waly, Abuya HM Nasir Waly (almarhum), Ummi Abidah Waly, Abu Marhaban, Abu Ruslan Waly, Abu Syech Abdurrauf, Ummi Mariyah (almarhumah). “Dua orang lagi yang meninggal dunia 30 tahun lalu, sedangkan ada seorang lagi yang kami tak ingat,” kata Tgk Harmen yang ditemui di rumah duka, Kompleks Pesantren Serambi Mekkah, Meulaboh, tadi malam.

Abuya Nasir Waly meninggalkan dua orang istri, yaitu Ummi Hj Ti Hawa di Labuhan Haji dan Ummi Hj Murniati di Meulaboh. Dari Ummi Ti Hawa dikaruniai tujuh putra-putri sedangkan dari Ummi Murni tiga putra-putri. Ke-10 orang putra-putri Abuya Nasir Waly masing-masing, Siti Munawarah Al-Waly, Hj Maulida Waly, Muthawaliyati Waly, Muhibbul Waly, Mutawally Al-Chalidi, Mawaddah Waly, Mauzizah Waly, Mubarak Waly, Munawar Waly, dan Muntashier Waly Al-Chalidi. Suasana duka dirasakan masyarakat Aceh sejak mengetahui Abuya Nasir Waly meninggal dunia. Keharuan sangtat terasa ketika jenazah berada di Bakongan, Labuhan Haji, dan sepanjang jalan yang dilewati, terutama bagi masyarakat di sepanjang jalur pantai selatan hingga barat Aceh yang mengetahui mobil yang membawa jenazah Abuya melintas.

Wartawan Serambi yang terus memantau keadaan di rumah duka hingga pukul 22.30 WIB tadi malam melaporkan, jenazah Almarhum Abuya Nasir Waly dijadwalkan pemakaman pada dini hari, Minggu (7/2) sekitar pukul 01.00 WIB setelah di Kompleks Pesantren Serambi Mekkah, Meulaboh setelah dikafankan di Pesantren Labuhan Haji, Aceh Selatan. 

Seruan shalat ghaib
Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (NU) dan Pengurus Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), dalam siaran persnya kepada Serambi kemarin, menyerukan kepada seluruh masyarakat Aceh, khusunya masyarakat pesantren, untuk melakukan shalat ghaib dan samadiyah di tempat masing-masing. “Meninggalnya seorang ulama berarti mati sebuah lampu penerang bagi umat dan sangat sulit untuk diganti. Kami keluarga besar PWNU Aceh dan HUDA atas nama almarhum, memohon maaf atas segala kekhilafan dan kesalahan yang mungkin terjadi dalam pergaulan dengan beliau. Semoga Allah SWT menempatkan almarhum ke dalam syurga-Nya,” tulis Tgk H Faisal Ali, Sekjen HUDA. 

Tgk Faisal mengatakan, berita meninggalnya Abu Nasir yang merupakan salah seorang alumni Dayah Mudi Mesra Samalanga ini, menyebar begitu cepat di seantero Aceh, bahkan Jakarta dan luar negeri. Menurut pria yang akrap disapa Lem Faisal ini, Tgk HM Nasir Wali Lc yang akrab disapa dengan Abuya Nasir Wali dikenal luas oleh semua kalangan hingga tingkat internasional, karena kemampuannya berkomunikasi dengan berbagai kalangan dan tingkatan. Lem Faisal menambahkan, Abuya Nasir Waly semasa hidupnya merupakan salah seorang ulama yang sangat ngotot dalam memperjuangkan penegakan syariat Islam di Aceh. Selain menjabat sebagai Pimpinan Pesantren Serambi Mekkah Meulaboh, Abuya Nasir Waly juga Ketua MPU Aceh Barat dan Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh Barat.

kisah Ulama

0



Abon Abdul Aziz Samalanga
Abon Samalanga merupakan salah seorang ulama kharismatik Aceh. Nama asli beliau Tgk. H. Abdul ‘Aziz bin M. Shaleh, beliau lebih dikenal dengan panggilan Abon ‘Aziz Samalanga atau Abon Mesjid Raya Samalanga. Beliau lahir di Desa Kandang Samalanga Kabupaten Aceh Utara (Kabupaten Bireuen sekarang) pada bulan Ramadhan tahun 1351 H/1930 M. Abon diasuh dan dibesarkan di Jeunieb, ayahandanya pernah menjabat Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Jeunieb. Beliau juga salah seorang pendiri Dayah Darul ‘Atiq Jeunieb, sehingga Abon dari masa kecilnya sudah mulai belajar ilmu agama di dayah tersebut semasa tinggal di Jeunieb. Ketika usia Abon telah matang, Abon menikahi seorang gadis di Desa Mideun Jok Samalanga yang merupakan putri gurunya sendiri, pimpinan Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga pada waktu itu. Beliau dikaruniai empat orang anak, yaitu Hj. Suwaibah (almh.), Hj. Shalihah, Tgk. H. Athaillah, dan Hj. Masyitah.

Abon memulai belajar pada pendidikan formal pada tahun 1937, memasuki Sekolah Rakyat (SR) dan menamatkan pendidikan dasarnya pada tahun 1944. Dari tahun 1944 beliau belajar pada orang tuanya selama dua tahun, kemudian pada tahun 1946 pindah belajar ke Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga yang pada waktu itu dipimpin oleh Tgk. Haji Hanafiah (Teungku Abi) lebih kurang selama dua tahun. Pada tahun 1948 Abon melanjutkan pendidikannya ke salah satu dayah yang dipimpin oleh Teungku Ben (Teungku Tanjongan) di Matangkuli Kabupaten Aceh Utara. Di dayah ini Abon belajar pada Teungku Idris Tanjongan sampai dengan tahun 1949. Pada tahun yang sama beliau kembali lagi ke Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga untuk mengabdikan diri sebagai guru.

Setelah beliau mengabdi menjadi guru beberapa tahun, pada tahun 1951 Abon melanjutkan pendidikan ke Dayah Darussalam Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan yang dipimpin oleh Alm. Teungku Syeikh Muhammad Wali Al-Khalidi yang lebih dikenal dengan panggilan Abuya Mudawali. Abon belajar di Dayah Darussalam lebih kurang selama tujuh tahun. Selama di Darsusalam beliau belajar dengan tekun, pernah di ceritakan oleh Tgk. Muhammad Amin Tanjongan yang merupakan murid Abon yang juga belajar di Labuhan Haji, bahwa pada saat muthala`ah beliau membuka segala kitab yang berkenaan dengan pelajaran yang sedang beliau pelajari, sehingga kamar beliau terlihat berserakan dengan kitab.
 
Abuya Muda Waly
Pada tahun 1958 Abon kembali lagi ke Dayah LPI MUDI Mesjid Raya samalanga untuk mengembangkan ilmunya. Pada tahun tersebut pimpinan Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga meninggal dunia, sehingga Abon diangkat menjadi pimpinan dayah tersebut. Semenjak dayah LPI MUDI Mesjid Raya berada di bawah kepemimpinannya, banyak perubahan terjadi, terutama menyangkut tentang kurikulum pendidikan yang semula tidak terlalu fokus pada ilmu-ilmu alat (bantu) seperti ilmu manthiq, ushul al-fiqh, bayan, ma‘ani, dan lain-lain. Keahlian Abon yang sangat menonjol adalah dalam bidang ilmu manthiq sehingga Abon digelar dengan al-Manthiqi. Bahkan kepiawan Abon dalam penguasaan ilmu agama di akui oleh Syeikh Arsyad Lubis. Pernah Abuya Jamaluddin Waly menceritakan, pada suatu hari Syekh Arsyad Lubis dari Medan menemui Abon, beliau sangat kagum mendengar uraian kitab yang disampaikan oleh Abon. Syekh Arsyad Lubis bertanya kepada Abon ‘’Apakah sudah habiskah ilmu yang dimiliki oleh Syekh Muda Waly diajarkan kepada Abon’’. Abon menjawab’’bahwa ilmu Abon belumlah 10 persenpun dari ilmu yang dimiliki oleh Syekh Muda Waly.

Abon sangat disiplin dan memiliki semangat luar biasa dalam mengajar, sehingga dalam keadaan beliau sakit pun beliau tetap antusias mengajar.Dalam bulan Ramadan Abon dimana sebagian besar santri pulang kampong halaman dan sebagian besar pengajian di dayah di Aceh diliburkan, Abon masih mengajar santri-santrinya yang masih menetap di Dayah tidak pulang kekampung halaman. Beliau tidak membacakan kitab kitab yang besar, tetapi hanya kitab yang kecil yaitu kitab Awamel, sebuah kitab nahu yang lazimnya dipelajari oleh para santri pemula. Dalam membacakan kitab ini beliau menjelaskan penjelasan beringkat, mulai dari pembahasan yang rendah yang mampu di pahami oleh santri kelas rendah kemudian di lanjutkan dengan pemahaman yang lebih tinggi untuk santri kelas tinggi dan para dewan guru Maka tidak heran jika dalam nasehatnya, beliau selalu mengamanatkan kepada murid-muridnya untuk selalu belajar-mengajar (beut-seumubeut). Dalam pengajarannya, Abon sangat membenci faham Wahabiyyah sehingga beliau tidak pernah bosan dalam mengurai kesesatan faham tersebut. Bahkan hampir setiap hari Abon menyinggung tentang kesesatan faham tersebut.

Kemajuan dayah pada masa kepemimpinan Abon meningkat pesat, jumlah santri dari jumlah ratusan menjadi ribuan, bangunan fisik dayah pun juga berkembang sesuai dengan perkembangan zaman yang terus maju. Selain dari aktifitas Abon di dayah, Abon juga membuka pengajian mingguan di Jeunieb yang dikenal dengan Balee Hameh, karena pengajian diadakan seminggu sekali pada hari Kamis.

Disamping aktifitas dakwah melalui majelis pengajian, Abon juga ikut dalam pembangunan fisik, seperti membangun jalan menuju perkebunan di Desa Gle Mendong Samalanga, dan menggarap sawah yang telah terlantar bertahun-tahun. Bersama-sama dengan murid-muridnya serta dibantu oleh masyarakat sekitar, Abon menata kembali perkebunan dan persawahan telantar, semua beliau lakukan demi hidupnya perekonomian masyarakat.

Dalam dunia perpolitikan, Abon pernah memberi dukungan kepada partai PERTI. Abon memilih partai tersebut karena partai ini berlatarbelakang faham ahlussunnah waljama‘ah.
Dari semua aktifitas Abon, tidak ada yang lebih utama bagi beliau selain mengajar. Alokasi waktu untuk kegiatan ekonomi atau politik diatur dalam skedul yang tidak mengganggu jadwal mengajar. Kristalisasi dari sikap inilah yang mendasari beliau untuk selalu berpesan kepada murid-muridnya agar selalu mengutamakan belajar-mengajar (beut-seumubeut), di mana pun dan dalam kondisi bagaimana pun sepulang dari dayah nantinya, walau hanya bermodal sebuah balai di depan rumah dan hanya mampu mengajarkan cara membaca al-quran saja.

Pesan tersebut telah menjadi doktrin yang menjiwai pemikiran murid-murid beliau. Kiranya inilah misi utama beliau yang sekarang telah nyata hasilnya. Terbukti dari banyak dayah dan balai pengajian di sebagian besar wilayah Aceh, merupakan lembaga yang dipimpin oleh alumni Dayah LPI MUDI Mesjid Raya. Dari seluruh murid Syeikh Abuya Muda Waly al-Khalidy, Abon Abdul Aziz merupakan ulama yang paling banyak melahirkan penerus. Beliau berhasil mendidik kader ulama melebihi dari murid-murid Abuya yang lain.

Selain pesan untuk selalu beut seumebeut (belajar mengajar) dalam hal mencari nafakah Abon juga selalu menekankan murid-murid beliau supaya bekerja dan memiliki usaha jangan hanya berpangku tangan mengharap bantuan dan sedekah orang lain yang Abon istilah dengan kata beliau
 “leubee lam aree”.

selain itu, Abon juga memiliki firasat yang tajam dan kuat. Ini merupakan salah satu karamah beliau. Beberapa perkataan beliau terbukti kebenarannya. Beberapa kisah ketajaman firasat Abon yang kami dengar antara lain:
1.       Diceritakan oleh Abu Mudi, pada suatu hari datang dua santri baru di dayah Mudi. Pada saat menghadap Abon, salah seorang dari santri baru tersebut dipandang oleh Abon dengan cukup lama, setelah ke dua santri tersebut keluar, Abu Mudi yang menyaksikan hal tersebut bertanya kepada Abon, mengapa Abon berlaku demikian, Abon menjawab “esok hari ia akan pergi meninggalkan dayah”. Abu Mudi pun bertanya :”Bagaimana dengan santri yang satu lagi?” Abon menjawab bahwa ia akan bertahan did ayah selama beberapa saat. Esok harinya hal ini terbukti, santri yang dipandang oleh Abon tersebut langsung hengkang dari dayah, sedangkan yang satu lagi tetap bertahan sampai beberapa tahun.
2.      Abon pernah ditanyakan oleh salah satu murid mengapa Abon tidak membentuk ikatan alumni sebagaimana dilakukan oleh Abu Tepin Raya pada Dayah beliau, Darus Sa`adah. Abon menjawab: itu tidak perlu saya pikirkan, suatu saat akan dipikirkan oleh mereka sendiri. Hal ini tersebukti , saat ini alumni Mudi telah memiliki satu ikatan organisasi yang tergabung dalam Yayasan al-Aziziyah.
3.      Abu Mudi menceritakan, Pada awalnya waled Nu (Tgk.Nuruz Zahri, pimpinan pesantren Nurul Aiman, Samalanga) hanya mendirikan panti asuhan bukan sebuah dayah. pada suatu ketika Abon mengatakan kepada bahwa” nyak Nu (waled Nu) suatu saat akan mendirikan Dayah. Hal ini terbukti bahwa sekarang ini panti asuhan yang dikelola Waled Nu telah berkembang menjadi satu dayah yang besar yang terletak tidak jauh dari Dayah Mudi Mesra.

Abu Mudi, Mudir LPI MUDI saat  ini.
Dalam hal mendidik muridnya, Abon juga mencoba mental murid-murid beliau. Hal ini semua bertujuan untuk tazkiyah hati murid. Seperti yang di ceritakan oleh Abu Mudi, pada suatu hari Abu Mudi sudah siap dengan pakaian yang rapi ingin menuju ke pasar Samalanga, tiba-tiba beliau dipanggil oleh Abon, setelah sampai didepan Abon, beliau mengajak Abu Mudi menuju kesawah tanpa menunggu Abu Mudi mengganti pakaian. Akhirnya Abu Mudi ikut bersama Abon menuju sawah dengan pakaian yang rapi. Sampai disawah, Abon menyuruh kepada Abu Mudi untuk memperbaiki pematang sawah. Abu Mudi segera melakukannya, sedangkan Abon memperhatikan bagaimana pekerjaan Abu Mudi. Setelah selesai barulah Abon mengatakan bahwa hasil kerja Abu Mudi salah, sehingga Abu Mudi harus memulainya dari pertama lagi. Rupanya Abon sengaja tidak menegur kesalahan Abu Mudi dari awal Karena ingin mencoba Abu Mudi. Contoh yang lain adalah sikap Abon terhadap murid yang bersifat bakhil dan kikir. Abon akan mengujinya dengan cara meminjam milik murid tersebut, pernah suatau saat salah seorang murid Mudi yang dikenal kikir dan memilki sebuah sepeda baru, maka Abon langsung meminjam sepeda tersebut.

Abon berpulang ke hadharat-Nya pada tanggal 9 Jumadil Akhir 1409/17 Januari 1989 dalam usia 58. Beliau dikebumikan di Samalanga, di komplek putra Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga Kabuapten Bireuen. Semoga Allah memberi pengampunan kepada beliau, menempatkan beliau dalam satu kebun daripada kebun syurga sesuai dengan amal baik yang telah beliau lakukan. Amiin!
 

Tepat pada tanggal 20 April ini, seluruh murid-murid dan pecinta Abon akan memperingati Haul dengan acara doa bersama untuk almarhum Abon serta acara mubahatsah ulama dan seminar . Semoga Allah memberikan kepada kita semua semangat Abon sehingga mampu melanjutkan perjuangan beliau dalam mepertahankan aqidah Ahlus sunnah wal jamaah.

Di kutip dari buku profil ringkas Dayah MUDI MESRA samalanga dengan beberapa tambahan
Di tulis oleh lbm MUDI mesra (Lajnah Bahtsul Masail Mahadal Ulum Diniyah Islamiah)
Pada tanggal
 17.4.13 Dalam kategori Profil | Ulama Nusantara dengan judul Abon Abdul Aziz Samalanga

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com