Kamis, 14 Januari 2016

TAUBATNYA SEORANG PREMAN (Kisah Nyata Seorang Ulama Besar di Baghdad)

1

Sejak dini, aku hidup sebagai pemabuk, tersesat dan ahli maksiat. Menzalimi manusia, merampas harta orang lain, makan riba dan bahkan menggebuki orang adalah pekerjaan harianku. Tak ada hari dalam hidupku tanpa berbuat zalim terhadap manusia. Nyaris semua bentuk maksiat pernah aku lakukan.. Bahkan terkadang orang-orang yang tinggal di sekitarku ngeri mendegar namaku…

Aku ingin menikah
Pada suatu hari, aku sangat ingin menikah karena merindukan punya anak yang akan menghibur kehidupanku yang amat keras itu. Lalu, aku menikahi seorang gadis di kotaku (Baghdad)dan setelah hampir setahun istrikupun melahirkan seorang bayi wanita yang amat mungil lagi cantik. Bayi itu ku beri nama“Fatimah”.

Entah bagaimana, aku amat mencintai Fatimah, bahkan melebihi orang lain di sekitarku. Semakin Fatimah tumbuh dengan sehat, imanku semakin tumbuh pula dalam hatiku dan maksiat semakin berkurang dalam kehidupanku. Suatu hari, saat aku memegang gelas yang isinya khamar (minuman yang memabukkan), Fatimah melihatnya. Ia mencoba mendekatiku dan menghalangi akau meminum khamar tersebut. Aku tidak tahu kenapa Fatimah bisa melakukan hal itu. Pasti, Allah lah yang membuat Fatimah bisa berbuat seperti itu…

Fatimah semakin besar. Imankupun semakin bertambah dalam hatiku… Setiap aku mendekatkan diri pada Allah satu langkah, maka seperti itu pula aku menjauh dari maksiat. Kondisi seperti itu terus berlanjut sampai Fatimah berusia tiga tahun. Saat memasuki usia tiga tahun, tanpa sebab sakit sedikitpun, Fatimah meninggal dunia….

Kembali mejadi ahli maksiat
Sungguh tak masuk akal… peristiwa “kematian Fatimah” membuatku putus asa dan aku berbalik menjadi preman, lebih sadis dan kejam dari sebelum aku menikah…Aku kehilangan kesabaran yang seharusnya dimiliki oleh orang beriman saat menghadapi ujian. Aku gagal total dalam menghadapi ujian itu…

Kali ini, hidupku kembali sebagai ahli maksiat dan kezaliman. Bahkan lebih dahsyat dari sewaktu aku masih muda. Akhirnya, setan benar-benar berhasil mempermainkan kehidupanku. Sampai pada suatu saat, setan berkata padaku : "Hari ini, hari yang paling bahagia bagi kamu. Kamu silahkan mabuk semabuk-mabukknya yang belum pernah terjadi sepanjang hidupmu…"

Mimpi hari kiamat
Akupun bertekad untuk mabuk dan minum khamar sebanyak-banyaknya. Sepanjang malam itu kerjaku hanya minum dan minum khamar… Saat aku teler dan kemudian ketiduran, tiba-tiba aku bermimpi. Dalam mimpiku, aku sedang menghadapi sebuah peristiwa besar, yakni kiamat. Matahari tidak lagi memberikan cahayanya ke bumi. Laut berubah menjadi api raksasa.. Di bumi terjadi gempa yang amat dahsyat.. Semua manusia berkumpul di padang mahsyar..Manusia sangat banyak dan hilir mudik bergelombang-gelombang. Aku adalah salah satu di antara mereka.

Tiba-tiba, aku mendengar suara orang yang memanggil Fulan bin Fulan.. "Ayo segera menghadap yang Maha Perkasa"… Saat itu aku melihat ada orang yang hitam pekat wajahnya karena sangat ketakutan.. Tak lama kemudian, aku mendengar suara memanggil namaku sambil berkata : "Ayo, segera kamu menghadap kepada yang Maha Perkasa"… Tiba-tiba saja semua manusia sangat banyak itu menghilang dari sekelilingku… Tinggal aku sendiri di tengah padang mahsyar yang amat luas itu.

Saat aku melihat ke suatu arah, tiba-tiba aku melihat ULAR yang sangat besar dan garang sedang menuju ke arah tempat aku berdiri sambil membuka mulutnya lebar-lebar..Aku lari dan berlari menjauh dari kejaran ular tersebut karena sangat takut, sampailah aku meihat seorang KAKEK yang sudah sangat lemah.. Lalu aku berkata : "Bapak! Tolonglah aku dan selamatkan aku dari ular itu!" Sang kakek berkata : "Wahai anakku, aku sendiri sangat lemah dan tidak berdaya sama sekali.. Cobalah anda lari ke suatu tempat di sana semoga ada yang bisa membantumu".. Akupun berlari ke arah yang ditunjukkan kakek tersebut dan ular tersebut di belakangku, sedang di hadapanku ada nyala api yang sangat panas..

Saat itu aku berkata dalam diriku, kamu lari dari kejaran ular atau masuk ke dalam api besar itu? Namun aku tetap berlari sedang ular itu semakin menghampiriku.. Aku coba balik lagi ke arah tempat seorang kakek yang menyarankan aku ke suatu tempat itu. Setelah melihatnya, aku berteriak memanggilnya kembali sambil berkata kepadanya: "Demi Allah, tolonglah selamatkan aku! Engkau berkewajiban menyelamatkanku"… Kakek itu pun menangis karena sedih melihat kondisiku sambil berkata : "Aku ini sudah sangat lemah, tidak mampu berbuat apa-apa, seperti yang kamu lihat sendiri. Cobalah lari ke arah bukit sana, semoga kamu selamat.."

Akupun berlari sekencang-kencangnya ke arah bukit yang diisyaratkan kakek tersebut…Sedangkan ular besar itu semakin mendekatiku. Setelah mendekati bukit tersebut, aku mendengar riuh suara anak-anak sedang beteriak memanggil anak-ku Fatimah sambil berkata : "Fatimah! Selamatkan ayahmu! Selamatkan segera ayahmu!"

Tiba-tiba saja Fatimah muncul di hadapanku. Seketika itu pula ketakutanku hilang dan rasa bahagia masuk ke dalam dadaku karena bertemu anakku yang meninggal saat berusia tiga tahun. Aku sangat bahagia karena bertemu anakku dan menyelamatkanku dari kondisi sulit seperti itu.. Lalu Fatimah memelukku dengan tangan kanannya sambil mengusir ular besar itu dengan tangan kirinya. Aku seperti mayat (orang yang sudah mati) tak berdaya karena ketakutan…

Setelah ular itu pergi, Fatimah tiba-tiba duduk di atas pangkuanku persis seperti saat dia masih hidup dulu.. Lalu Fatimah berkata : "Wahai ayahanda tercinta! Sudah saatnya orang-orang beriman itu hati mereka khusyuk mengingat Allah.. (QS. Al-Hadid / 57 : 16)".

Setelah mendengarkan ucapan Fatimah, aku bertanya padanya : "Wahai anakku, apakah gerangan ULAR BESAR itu? Lalu Fatimah menjawabnya: Itulah AMAL KEJAHATANMU. Dengan kejahatan dan kezaliman, berarti ayahanda sendiri yang membesarkannya dan nyaris ia memakan ayah..Tidakkah engkau tahu wahai ayahku bahwa semua amal yang dilakukan di dunia akan muncul dalam bentuk makhluk tertentu pada hari kiamat nanti? LAKI-LAKI yang LEMAH itu, menggambarkan AMAL SHOLEH ayah yang tak seberapa.. Engkau sendiri yang melemahkan dan mengerdilkannya sehingga ia menangis melihat kondisimu dan tak mampu berbuat apa-apa padamu."

Kemudian anakku meneruskan ucapannya : "Kalaulah bukan engkau sebagai orang tuaku dan kalaulah bukan aku meninggal saat masih suci (anak-anak), tidak ada lagi yang bermanfaat bagimu…."

Tobat dan kembali ke pangkuan Allah
Tiba-tiba aku terbangun sambil berteriak…"Saatnya ya Allah… Sekarang saatnya aku tobat yaa Robb…Benar, kapan saatnya bagi orang beriman untuk khusyuk hatinya mengingat Allah? Aku berjanji ya Allah…Sekarang juga saatnya…"

Setelah fikiranku agak tenang aku mandi. Saat itu persis waktu subuh. Setelah mandi, aku keluar rumah menuju masjid dekat rumahku dengan semangat bertobat dan kembali kepada pangkuan Allah. Saat aku masuk ke masjid, aku mendengar imam sedang membaca ayat persis seperti yang dibaca anakku dalam mimpi :

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْ�*َقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

"Tidakkah sudah tiba saatnya bagi orang-orang beriman untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah dan terhadap apa yang yang turun dari kebenaran (Al-Qur’an). Dan janganlah mereka seperti orang-orang ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) sebelumnya, maka lama masanya (mereka durhaka pada Allah), lalu hati mereka jadi keras dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. (QS. Al-Hadid/57 :16)

Itulah cerita Malik Bin Dinar sebagaimana yang Beliau ceritakan sendiri. Seorang ulama besar zaman tabi’in (generasi setelah sahabat) yang sebelumnya adalah preman besar. Beliau terkenal dengan kebiiasaannya menangis sepanjang malam sambil berdoa :

Ilahi… Engkau saja yang tahu siapa yang akan menjadi penghuni syurga dan siapa pula yang akan menjadi penghuni neraka.. Yang manakah aku yaa Robb?

Yaa Allah! Jadikanlah aku penduduk syurga dan jangan jadikan aku penghuni nerakamu!


Itulah Malik Bin Dinar. Setelah taubat, beliau belajar Islam dengan sungguh-sungguh sampai menjadi ulama besar di zamannya. Beliau terkenal setiap hari berdiri di pintu masjid sambil berseru :

Wahai hamba yang melakukan maksiat dan dosa, kembalilah kepada Tuhannmu!

Wahai hamba yang masih lalai, kembalilah kepada Tuhanmu!

Wahai hamba yang lari dari Robb (Tuhan Penciptanya), kembalilah kepada-Nya!

Tuhanmu memanggilmu malam dan siang sambil berkata padamu :

Siapa yang datang dan mendekatkan diri kepada-Ku satu jengkal, maka aku akan mendekat padanya satu hasta…

Siapa yang mendekatkan diri pada-Ku satu hasta, maka aku akan mendekat kepadanya satu depa…

Siapa yang datang padaku sambil berjalan, maka Aku akan datang padanya sambil berlari…


Semoga Allah melunakkan hati kita untuk taubat dan segera kembali kepada-Nya
Syukran...

Selasa, 12 Januari 2016

Dayah Darut Thalibin di Pedalaman Nisam

0

Nisam, Harian Moslem - Lantunan suara orang membaca ayat suci al qur’an mengalun pelan, terdengar sayup dari kejauhan, suasana Dayah Darut Thalibin terlihat sedikit senyap, saya memarkir kenderaan di bawah pohon mangga depan mesjid begitu tiba di halaman depan Dayah.

Badan terasa pegal, saya pikir istirahat sebentar dibawah keteduhan pohon ada baiknya juga, setelah lelah menempuh perjalanan dari Lhokseumawe kepedalaman Nisam begitu terasa, bukan karena jaraknya, tetapi saya harus melintasi perbukitan dengan kondisi jalan berlubang penuh tonjolan batu besar.

Dayah Darut Thalibin terletak di barat Lhokseumawe, kita bisa masuk melalui jalanan samping bekas komplek perumahan pabrik pupuk AAF yang kini terlantar, berkendara sejauh 7-8 kilo meter pada jalanan aspal, kita akan membelok ke kiri pada sebuah tanjakan bukit, jalanan buruk akan menyapa pengendara, salah-salah kenderaan bisa terguling ditempat ini bila terperosok kelobang dan tertabrak tonjolan batu.

Melewati bukit tadi, kita akan menemui hamparan sawah, sebagian masih terlihat bekas baru dipanen, sebagian lagi sudah ditumbuhi semak, sepertinya sawah disini tidak memiliki irigasi, dibelakang perkebunan warga dengan tumbuhan pinang berjejer ramai, perbukitan dibelakang terlihat sedikit tandus, ilalang tumbuh diatasnya, sedikit pohon besar terlihat tumbuh.

Pada sebuah persimpangan setelah sawah kita harus membelok ke kiri, jalanan terasa sejuk, jejeran pohon pinang terlihat bersusun di perbukitan sisi kiri, pohon besar lainnya memepet rapat, pada sisi kanan tanah terlihat landai, kebun penduduk menjadi pemandangan disana.

Diujung jalan terlihat sebuah jembatan kecil, melintasinya kita menemukan kembali jalanan aspal, sebuah sekolah terlihat disisi kanan turunan jembatan, berkendara terus sekitar 15 menit bakal ketemu pasar desa Keutapang, ada persimpangan disana, kita harus membelok ke kanan setelah bertemu sebuah balai tempat warga terlihat duduk santai, beberapa kedai kayu menandakan dipersimpangan itu merupakan sebuah pasar, dibagian atas melintang spanduk anggota DPR Aceh memberi ucapan selamat Ramadhan, spanduk lain caleg dari berbagai partai berpromosi diri.

Berjarak hanya sekitar 30 meter di sisi kanan jalan bertemulah dengan komplek Dayah Darut Thalibin, sebuah mesjid terlihat teduh menghadap ke gerbang depan, disisi kanan ada sebatang pohon mangga besar, beberapa pohon kelapa berdiri kokoh dihalaman, sebuah bak besar terlihat disisi kiri, tempat para santri mengambil wudhuk.

Dayah Darut Thalibin tepat berada di tengah perkampungan warga Nisam, dibelakang pasar desa Keutapang, di timur Dayah terlihat hamparan sawah seluas mata memandang, dibelakangnya dari kejauhan membayang hitam pohonan tinggi pada barisan perbukitan, didekat sanalah rawa Cot beTrieng berada, sebuah lokasi heboh pada masa konflik Aceh.

Sejatinya bila berdiri di depan halaman mesjid terlihatlah Dayah Darut Thalibin dikelilingi pegununungan dari semua sisi, di bagian timur gunung, bagian utara gunung, bagian barat juga gunung, demikian juga dibagian selatan terlihat barisan gunung kehitaman dari jauh.

Disanalah, ditanah landai dekat hamparan sawah, dikelilingi pegunungan Nisam, 220 santri pria menuntut ilmu pada Dayah Darut Thalibin, dalam jumlah yang tidak jauh berbeda juga santri wanita berada di Dayah putri, mereka mendapatkan bimbingan dari ulama Nisam Abu Hasballah Keutapang.

Para santri pria menempati 83 bilik, mereka mengaji dan belajar isi kitab siang dan malam, mulai usai shubuh, Dhuha, setelah Dhuhur dan malam hari, dengan bimbingan 50 tenaga pengajar oleh para Teungku yang juga nyantri belajar pada Abu Hasballah.

Sementara kegiatan para santri wanita tentu saja saya tidak bisa melihat, tidak dibolehkan kaum pria masuk kesana, demikian juga para santrinya tidak dibolehkan keluar pekarangan Dayah, hanya sesekali santri wanita bisa keluar saat berkunjung ketempat orang sakit dan orang meninggal untuk berdoa, tentunya masih dibawah bimbingan Teungku mereka.

Peraturan ketat itu tidak berlaku untuk santri pria, mereka boleh saja berkeliaran disekitar Dayah, bahkan para santri untuk membiayai hidup selama belajar di Dayah Darut Thalibin boleh bekerja di persawahan penduduk saat panen tiba, selebihnya tentu dari shadaqah dan infaq masyarakat desa Keutapang dan warga lainnya.

Uniknya Dayah Darut Thalibin justru tidak menerima bantuan pemerintah, menurut beberapa orang Teungku yang saya temui seusai shalat di mesjid Dayah, tidak kurang dari mantan Wagub Muhammad Nazar dan mantan Gubernur Irwandi Yusuf pernah menawarkan biaya untuk pembangunan Dayah, hasilnya semua dana itu ditolak pimpinan Dayah Abu Hasballah.

Pembangunan Dayah Darut Thalibin didapatkan dari Shadaqah masyarakat desa Keutapang, para petani dibawah pegunungan Nisam itu setiap tahun menyisihkan pendapatan mereka, tidak hanya untuk pembangunan Dayah, tetapi juga untuk kebutuhan para santri yang menuntut ilmu disana.

Nisam memang berbeda, saya masih terus mendengar suara laki-laki mengaji didalam mesjid, usai shalat saya juga mengambil al-qur’an tua didepan saya, mengaji juga meski tidak seindah lafaz para santri Dayah Darut Thalibin.

Dhuhur ini kedatangan saya kesini sudah untuk ke tiga kalinya, pada kedatangan pertama saya sempat mengikuti shalat Ashar di mesjid Dayah Darut Thalibin, mendekati waktu shalat saya melihat beberapa lelaki dalam jumlah puluhan, seorang demi seorang keluar dari bilik mereka, berpakaian menutup seluruh tubuh hingga kepala, tidak tampak wajah, mereka adalah para santri dan warga yang melakukan Khaluet di Dayah Darut Thalibin.

Syukran...

Menelusuri Jejak Dayah Mudi Mesra Samalanga

0

Asrama Santri Mudi Mesra Samalanga


  
 
Dayah, dalam bahasa arab adalah”Zawiyah”, yang berarti sudut. Karena  sudut mesjid selalu dijadikan tempat majelis pengajian .

Kata “zawiyah” itu kemudian dalam dialeg bahasa Atjeh menyebutnya Dayah. Nama Dayah dalam terminology orang Aceh adalah sebuah lembaga pendidikan islam yang berperan aktif membina keteguhan keimanan, akhlaq, semangat jihad dan keilmuan masyarakat.

Nanggroe Aceh sebagai wilayah pertama menerima kehadiran islam dikawasan Asia Tenggara sejak abad pertama Hijriah, dimana negeri ini merupakan kawasan dimana rakyat memiliki karakteristik tersendiri.

Keunikan karakteristik ini disebabkan oleh pengaruh islam yang begitu kuat dalam proses pembentukan rakyat Aceh yang islami. Bahkan islam menjadikan asas bagi pembinaan budaya itu sendiri.

Keadaan tersebut terus bertahan karena kesadaran rakyat Atjeh yang tinggi dalam menjalankan dan menjaga nilai – nilai keagamaan yang begitu kuat..

Pada masa zaman kejayaan Atjeh, Sultan Iskandar Muda, Dayah atau Pasantren di Aceh menjadikan suatu lembaga resmi, yaitu tempat mencetak kader – kader aparatur Pemerintahan kerajaan Atjeh dan sekaligus dijadikan tempat pembentukan aqidah masyarakat Aceh yang islami.

Kondisi tersebut terus berjalan sampai masuknya pemerintah kolonial Belanda melakukan invansi kebumi Atjeh. Para ulama menjadikan Dayah sebagai basis perjuangan melancarkan gerakan jihad melawan penjajahan kolonial belanda dan melawan Jepang.

Pada waktu itu, peranan para ulama sangat meluas dan bahkan merambah kewilayah politik. Waktu perang melawan Kolonial Belanda di Nanggroe Atjeh, peran ulama adalah berada dibarisan depan, setelah tertawannya sultan.

Para ulama tidak hanya berperan sebagai pemimpin agama dalam masyarakat, namun juga ia sebagai pemimpin politik dan militer di bumi Serambi mekkah ini.

 Setelah Indonesia merdeka, peranan Dayah diganti oleh sekolah – sekolah yang didirikan oleh Pemerintah sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam kondisi demikian, Dayah sebagai lembaga pendidikan islam tertua tetap eksis dibawah asuhan para ulama.

Memang sungguh  menarik kalau berbicara tentang Dayah atau Pasantren, sebab lembaga pendidikan agama ini tidak mengutip biaya, sehingga menjadikan Dayah tersebut lebih dekat dengan masyarakat kelas bawah.

Sore itu,  jam menunjukkan pukul 16.oo wib, hujan rintik – rintik jatuh di bumi Kota Samalanga, yang dijuluki “Kota Santri”. Kami Redaktur Pelaksana tabloid Moslem melihat Dayah  Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah  Mesjid Raya( Mudi Mesra) di Gampong Mideun Jok, Kemukiman Mesjid Raya, Samalanga, atau sekitar 35 km dari wilayah barat ibu Kota Kabupaten Bireuen.

Dayah Mudi Mesra ini didirikan seiring dengan pembangunan Mesjid Raya Samalanga. Perletakan batu pertama dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda pada sekitar abad ke 1607 – 1636.

Waktu itu pimpinan Dayah pertama dikenal dengan nama Faqeh Abdul Ghani. Bersamaan pemerintahan  Samalanga dijabat oleh Tun Sri Lanang, asal Negara jiran Malaysia.

Namun sayangnya, sejarah Dayah pimpinan Teungku Faqeh tidak tercatat, selain berapa lama Tgk Faqeh ini memimpin Dayah dan siapa pula sebagai peganti selanjutnya.

Dayah Mudi Mesra sejak tahun 1927 tercatat tentang kepemimpinan Dayah ini. Sejak itu Dayah Mudi Mesra dipimpin oleh al – Mukarram Tgk H Syhabuddin bin Idris dengan jumlah santri 100 orang putra dan 50 orang putri.

Waktu itu, bangunan asrama santri merupakan barak – barak darurat yang dibangun dari bamboo dan atap rumbia. Setelah Tgk  H Syihabuddin wafat tahun 1935 Dayah ini dipimpinoleh adik iparnya, yaitu al-Mukarram Tgk H Hanafiah bin ibnu Abbas, atau lebih dikenal dengan tgk Abi.

Jumlah santri ditangan tgk Abi lebih meningkat, yaitu 150 orang putra dan 50 orang putri. Namun kondisi fisik bangunan  Dayah belum ada yang berubah. Dalam kepemimpinan Tgk Abi, Dayah tersebut sempat diperbantukan kepada Tgk M Shaleh selama dua tahun, yaitu ketika tgk Abi pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji dan sekaligus menimba ilmu agama di Negara Arab itu.

Pada tahun 1964 al-Mukarram Tgk H Hanafiah wafat, Dayah Mudi Mesra itu dipimpin oleh salah seorang menantunya, yaitu Tgk H Abdul Aziz bin M Shaleh.

Tgk H Abdul Aziz yang lebih akrab panggilan Abon ini dikenal ahli “al-Mantiqi” ,karena beliau spesialisasi dalam bidang logika.

Al-Mukarram Abon Tgk H Abdul Aziz adalah salah seorang murid dari Abuya Muda Wali Pimpinan Dayah Bustanul Muhaqqiqin Darussalam Labuhan Haji, Aceh Barat.

Sejak itulah Dayah Mudi Mesra para santrinya terus bertambah terutama berasal dari Aceh dan Sumatera. Waktu itu baik sarana dan prasarana sudah lebih maju dari sebelumnya. Bangunan bilik penginapan mulai ada perubahan, dari barak darurat kepada asrama semi permanen berlantai dua dan asrama berlantai tiga.

Untuk santriwati dibangun asrama berlantai dua dapat menampung 150 rang, sedangkan untuk lantai dasar digunakan untuk Mushalla.

Kemudian pada tahun 1989 Abon tgk H Abdul Aziz wafat,  Dayah Mudi Mesra melakukan pergantian pimpinan Dayah ini melalui kesepakatan para alumni dan masyarakat. Setelah musyawarah itu mempercayakan pimpinan Dayah  kepada salah seorang menantunya, yaitu Tgk H Hasanoel Bashry bin H Gadeng.

Tgk H Hasanoel atau lebih akrab sebutan Abu Mudi adalah salah seorang santri senior lulusan Dayah itu, serta sudah berpengalaman dalam mengelola Dayah semenjak Abon Aziz dalam keadaan sakit.

Mulai saat itu Dayah Mudi Mesra dibawah pimpinan tgk H Hasanoel mengalami kemajuan. Jumlah santri yang menuntut ilmu di Dayah ini terus bertambah. Para santri dan santriwati datang dari berbagai daerah, baik dari dalam maupun luar Aceh.

Menurut tgk Sayed Mahyiddin, wakil Pimpinan Dayah Mudi Mesra mengatakan, kini jumlah santri yang mondok di Dayah Mudi Mesjid Raya, Samalanga, mencapai 4.887 orang. Dari jumlah tersebut santriwan adalah 2.543 orang, dan santriwati 2.294 orang.

Sedangkan tenaga pengajar di Dayah Mudi ini adalah sebanyak 632 orang. Hal ini menurut Tgk Sayed Mahjiddin, tidak sebanding dengan kapasitas daya tamping kamar yang ada. Yaitu katanya,3.178 orang yang bisa tertampung, sedangkan selebihnya 2.341 orang santri tidak mendapat kamar penginapan.

Menurut Tgk Sayed Mahjiddin didampingi  ketua STAI Al-AziziyahTgk Muntasir A.Kadir, S.Ag,MA mengatakan,  Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah Mesjid Raya(MUDI Mesra),Samalanga, kini mempunyai alumni  12 ribu lebih yang tersebar diseluruh Indonesia dan bahkan ada di luar negeri.

Mudi Mesra Samalanga, ditangan Abu Mudi, sebutan untuk tgk H Hasanoel Bashry sebagai pimpinan Dayah, telah banyak berbagai kemajuan.Pada tanggal 15 April 2003 telah membentuk sebuah lembaga yang diberi nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Aziziyah (YPIA)Samalanga, Kabupaten Bireuen.

YPI Al-Aziziyah adalah sebuah lembaga kemasyarakatan yang berbasis Dayah salafiyah, adalah bertekad untuk menghimpun para alumni dalam satu wadah kesatuan. Pendirian yayasan YPI Al-Aziziyah tersebut didirikan setelah berdiskusi dengan berbagai alumni senior Dayah Mudi Mesra, seperti Tgk H M Kasem,(alm),Abon Tanjongan yaitu Tgk H M Amin (alm), Tgk H Usman Ali (Abu Kuta Krueng) dan Waled Marzuki di Jakarta serta sejumlah alumni senior lainnya.

Penabalan nama al-Aziziyah diambil sempena dari nama almarhum Tgk H Abdul Aziz bin Shaleh . Abon Aziz adalah salah seorang pimpinan Dayah Mudi Mesra yang telah mampu mendirikan landasan dasar bagi kemajuan Dayah. Visi dan semangat Abon Aziz diharapkan menjadi symbol YPI Al-Aziziyah dalam melaksanakan kegiatannya.

Berangkat dari itu, merupakan fokus utama yayasan adalah pengembangan dan peningkatan  kualitas pendidikan Islam di Bumi Iskandar Muda ini.(Umar Pandrah)
 
 
Pimpinan Dayah Mudi Mesjid Raya dari masa ke masa.
 
1.   Tgk Faqeh Abdul Ghani.                           Abad ke 1607 - 1636
2.   Tgk H Syihabubdin Bin Idris                             1927 - 1935
3.   Tgk H Hanafiah Bin Ibnu Abbas                     1935 – 1958
4.   Tgk H Abdul Aziz Bin M Shaleh                         1958 -  1989
5.   Tgk H Hasanoel Bashry Bin H Gadeng 1989         sekarang.
Syukran...
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com