Selasa, 12 Januari 2016

Abu Ibrahim Woyla, Sebuah Riwayat!

0

 kisah yang melekat pada seorang lelaki bernama Ibrahim Woyla. Alamarhum dipandang sebagai seorang sufi. Dalam masyarakat Aceh, terutama di daerah asalnya Aceh Barat, almarhum dianggap seorang yang keramat. 

Maka ketika dia meninggal dunia ribuan orang datang melayat dan takziah. Selama hampir 30 hari meninggalnya Abu Ibrahim Woyla, masyarakat Aceh berduyun-duyun datang ke Kampung Pasi Aceh, Kecamatan Woyla, Aceh Barat. Dia berpulang ke Rahmatullah pada hari Sabtu pukul 16.00 WIB tanggal 18 Juli 2009 di rumah anaknya di desa tersebut. 

Selama 30 hari kepergiannya ribuan orang setiap hari tak kunjung henti datang menyampaikan duka cita,. Untuk menghormati para tamu setiap hari keluarganya menyembelih tiga ekor sapi dan menyediakan sekitar 400 kotak air mineral.

Nama lengkap almarhum Ibrahim Woyla adalah Ibrahim bin Teungku Sulaiman bin Teungku Husen. Dia dilahirkan di Kampung Pasi Aceh, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat pada tahun 1919 M.

Menurut riwayat, pendidikan formal Ibrahim hanya tamat Sekolah Rakyat (SR). Selebihnya dia menempuh pendidikan dayah (pesantren salafi/tradisional) selama hampir 25 tahun. Dari rentang menuntut ilmu masa hidupnya dia belajar 12 tahun di Dayah Bustanul Huda di Blang Pidie Aceh Barat Daya, pimpinan Syeikh Mahmud, seorang ulama asal Lhoknya, Aceh Besar.

Di dayah ini pula, kabarnya Syeikh Muda Waly Al-Khalidy pernah belajar. Berbeda dengan Abu Ibrahim, Muda Waly hanya sempat belajar di dayah tersebut sekitar empat tahun, lalu pindah ke dayah pimpinan Haji Hasan Krueng Kale di Aceh Besar selama dua tahun, sebelum pindah ke Padang dan kemudian ke Mekkah.

Ketika Ibrahim Woyla mengetahui bahwa Syeikh Muda Waly kembali dari Mekkah dan mendirikan pesantren di Labuhanhaji Aceh Selatan, dia pun belajar di sana untuk memperdalam ilmu tareqat aliran Naqsyabandiyah.

Sebelumnya Ibrahim Woyla juga pernah belajar pada Syeikh Muhammad Arsyad dan Teungku Bilyatin bersama rekan seangkatannya almarhum Abu Adnan Bakongan.

Setelah lebih kurang dua tahun memperdalam ilmu tareqat pada Syeikh Muda Waly, Ibrahim kembali ke kampung halamannya. Tak betah di kampung, Ibrahim memilih mengembara dari satu negeri ke negeri lain yang kemudian berbagai kisah ikhwal kehidupannya diceritakan orang. Misalnya, keluarganya sendiri tidak mengetahui kemana Ibrahim Woyla pergi, karena tak pernah memberitahu dan mengirim kabar.

Menurut Teungku Nasruddin, menantunya, Abu Ibrahim pernah menghilang selama tiga kali. Kali pertama selama dua bulan, kedua selama dua tahun, dan ketiga selama empat tahun. Tatkala dia kembali dari pengembaraan panjangnya, pihak keluarga merasa heran akan perubahan pada Abu Ibrahim. Rambut dan jenggotnya panjang tak terurus, pakaiannya compang camping. Kukunya juga dibiarkan panjang seperti adanya.

Ada kemungkinan dalam pengembaraan panjangnya selama empat tahun dia tak sempat mengurus dirinya. Maka wajar pada waktu itu jika sebagian masyarakat Woyla menganggap Abu Ibrahim tidak waras lagi.

Sehari-hari Ibrahim dikenal sebagai sosok agak pendiam sejak kecil hingga masa tua. Dia hanya berkomunikasi bila perlu, sehingga banyak orang yang tidak berani bertanya terhadap hal-hal yang terkesan aneh pada diri putra Woyla ini. Kadang-kadang tindakannya tidak masuk akal.

Almarhum memiliki dua orang isteri. Pertama bernama Rukiah, yang memberikan dia tiga orang anak, seorang laki-laki dan dua perempuan: Zulkifli, Salmiah dan Hayatun Nufus. Sementara pada isteri keduanya dinikahinya di Peulantee, Aceh Barat, dua tahun sebelum beliau meninggal, tidak dikaruniai anak.

Menurut cerita tatkala isteri pertamanya hamil enam bulan untuk anak pertamanya, kondisi Abu Ibrahim seperti tidak stabil. "Saya mau belah perut kamu untuk melihat anak kita", katanya yang mencengangkan siapa pun yang mendengar. Padahal perkataan yang diucapkan itu tak pernah dilakukannya.

Pada tahun 1954 sebenarnya tahun yang sangat membahagiakan bagi pasangan suami-isteri itu, karena anak pertama mereka lahir. Tapi Abu Ibrahim hanya pulang sebentar, kemudian pergi kembali mengembara entah kemana. Ketika anak pertamanya sudah besar, menurut Teungku Nasruddin, barulah kondisi Abu Ibrahim normal. 

Dia hidup bersama keluarganya sambil membuka lahan perkebunan di Suwak Trieng, untuk menjadi harta yang ditinggalkan kepada keluarga di kemudian hari. Dalam penggalan inilah
lahir anak keduanya Hayatun Nufus dan anaknya ketiga mereka Zulkifli.

Tapi cerita terus berlanjut. Tak lama setelah lahir anak ketiganya, Abu Ibrahim kembali meninggalkan keluarganya untuk pengembaraan berikutnya. Ini nyaris membuat Ummi Rukiah tidak tahan, sehingga minta untuk pulang ke Blang Pidie.

Alasannya karena Abu Ibrahim tidak lagi peduli kepada keluarga. Kalaupun ada di rumah, dia asyik berzikit sendiri dan pergi kemana dia suka. Namun niat Ummi kembali ke Blang Pidie tidak terwujud. Allah mempersatukan Abu Ibrahim Woyla dan isterinya sampai akhir hayatnya.

Bila kita dengar kisah dan cerita tentang Abu Ibrahim Woyla semasa hidupnya, tak ubah seperti kita membaca kisah para sufi. Banyak sekali tindakannya yang terkadang tidak dapat diterima secara rasional.

Hal itu diakui Teungku Nasruddin, karena banyak sekali laporan masyarakat yang menceritakan seputar keajaiban kehidupan Abu Ibrahim Woyla.

Misalnya dia suka mendatangi tempat-tempat orang yang dalam kesusahan, kegelisahan dan musibah. Namun ini sulit dipahami karena Abu Ibrahim Woyla tidak membawa pesan, amanah apa pun, atau bantuan material bagi masyarakat yang terkena musibah. Dia hanya datang berdoa di tempat-tempat yang ia datangi.

Ustadz Muhammad Kurdi Syam, seorang warga Kayee Unoe, Calang yang sangat mengenal almarhum menceritakan bahwa dalam suatu perjalanan tiba-tiba Abu Ibrahim masuk ke sebuah rumah tertentu milik masyarakat. “Ia mengelilingi rumah tersebut sampai beberapa kali sambil berzikir. Lalu pergi meninggalkan rumah itu,” tuturnya.Tidak ada yang tahu makna yang di balik itu. Apakah agar penghuni rumah itu terhindar dari bahaya atau mendoakan agar dirahmati Allah.

Menurut Tgk Nasruddin, mertuanya itu sepertinya tidak lagi membutuhkan hal-hal yang bersifat duniawi. Misalnya jika memiliki uang dalam sekejap mata habis dibagi-bagikan kepada orang lain, terutama kepada anak-anak.

Bagi yang belum mengenalnya banyak yang beranggapan bahwa Abu Ibrahim sosok yang tidak normal. Kecuali berpenampilan kumal, mulutnya terus komat kamit. Mungkin dia berzikir sambil jalan.

Ada juga yang menceritakan ikhwal kecepatannya dalam melakukan perjalanan. Meski berjalan kaki, konon lebih cepat dari kendaraan bermesin. Kalau pergi kemana-mana selalu berjalan kaki, tanpa menggunakan sandal.

Suatu ketika Abu Ibrahim Woyla berjalan kaki dari Teunom menuju Meulaboh. Perjalanan yang memakan waktu satu sampai dua jam dengan kendaraan bermotor, dapat ditempuh Abu Ibrahim lebih singkat. Dia duluan tiba di tujuan dibandingkan mereka yang berkendaraan.

Bila berada di pasar, banyak pedagang berharap agar Abu Ibrahim singgah di toko mereka, karena kabarnya bisa mendapatkan berkah. “Namun dia punya pilihan dimana harus singgah,” kata Tgk Muhammad Kurdi Syam.

Suatu waktu Abu Ibrahim mendatangi seorang lelaki bernama Samsul Bahri di Babah Awe di Lamno Aceh Jaya. Dia meminta air minum, lalu dia memberikan dua potong lemang kepada Samsul. Tapi Samsul menolaknya, karena menurutnya lemang tersebut adalah sedekah orang kepada Abu Ibrahim Woyla. Karena tidak mau diterima, Abu Ibrahim membuang lemang tersebut. Samsul tercengang. Merasa bersalah, Samsul ingin mengambil lemang yang sudah dibuang tersebut. Namun lemang itu raib.

Kejadian aneh lain, ketika Abu mengunjungi salah seorang saudaranya. Dia minta sedikit nasi dengan lauk sambal udang yang diracik dengan asam belimbing. Tuan rumah memberi tahu tidak ada persediaan buah belimbing karena pohon belimbing milikmereka sedang tak berbuah. "Baru kemarin sore saya lihat tidak ada buahnya" kata sang isteri pada suaminya. Tapi suaminya terus mendesak isterinya melihat kembali. Ternyata ada tiga biji belimbing di pohon miliknya itu.

Demikian pula ketika hendak melangsungkan kenduri pernikahan anak pertamanya. Masyarakat di kampung merasa heran. Acara akan berlangsung beberapa hari lagi, tapi Abu Ibrahim tidak menyiapkan apa-apa. Uang pun tidak dikasih pada keluarga untuk kebutuhan acara tersebut. Namun ajaibnya pada hari "H" acara pernikahan anaknya, berlangsung lebih besar dari pesta-pesta pernikahan orang lain..

Itulah cerita “unik” orangtua dari Wayla,yang kini telah almarhum. Meskipun makam almarhum banyak diziarahi oleh masyarakat, pihak keluarga berpesan pada penziarah agar makam itu tidak dijadikan tempat pemujaan.
Syukran..

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com