Selasa, 12 Januari 2016

Dayah Ule Titi

1

Pria-pria muda berjalan mendekap kitab, mereka memburu keluar kelas menjelang masuknya waktu ashar, sepertinya baru saja selesai pengajian, seratusan pria lain keluar dari mushalla, sebagian meninggalkan kitab didinding teras.

Begitulah suasana Dayah Ule Titi di jalan Blang Bintang, letaknya sekitar 12 kilo meter di arah barat Banda Aceh, semula Dayah ini terletak persis di ujung jembatan Lambaro, kemudian dengan adanya perluasan Krueng Aceh pada tahun 1987, dipindahkan ke lokasi sekarang.

Dayah Ule Titi memiliki sekitar 1750 santri, dengan rincian 750 santri pria dan lebih 1000 santri wanita, mereka belajar diasuh oleh 120 guru, demikian dijelaskan Ketua Umum Yayasan Dayah Ule Titi Tgk.Muhammad Rizal (Abu Cut).

Pimpinan pertama Dayah adalah Abu Syeh Saman, diperkirakan seorang ulama yang datang dari jazirah Arabia, beliau merintis Dayah Ule Titi milik masyarakat Lambaro di zaman penjajahan Belanda.

Pengajian di Dayah kemudian mengalami kemunduran, tidak diketahui pasti apa penyebabnya, sebagian memperkirakan karena kondisi perang atau konflik sosial di dalam masyarakat, begitu penjelasan Abu Cut.

Dayah Ule Titi dilanjutkan oleh generasi kedua Abu Ishak Al Amin Meunasah Kumbang dari Aceh Utara, kemudian berlanjut kepada Abu Athailah yang kini menjadi pimpinan Dayah.

Dibawah bimbingan Abu Atahailah, Dayah Ule Titi membuka 9 tingkatan kelas pengajian, dimulai dengan kelas 0 atau kelas Tajhizi untuk mereka yang mulai mengaji, dan belajar kitab-kitab Jawo yang masih memiliki baris, kemudian kelas 1-7 belajar kitab yang lebih tinggi dalam bahasa Arab tanpa baris.

Pada kelas Tajhizi hingga kelas 7 masih dibimbing oleh para guru yang berjumlah 120 orang, namun setelah naik ke kelas 8, pengajian langsung dibawah bimbingan Abu Athailah, mulai saat itu tidak ada lagi kenaikan kelas, pengajian terus dilakukan selama masih mondok di Dayah Ule Titi.

Selama mengikuti pengajian, para santri diwajibkan dengan peraturan yang sangat ketat, mereka tidak boleh keluar Dayah, karenanya di dekat pintu masuk Dayah dibangun sebuah pos jaga, setiap yang masuk dan keluar harus melapor pada petugas jaga, mereka juga tidak boleh merokok, membawa hand phone dan membawa kenderaan.

Peraturan ketat itu akan sirna ketika para santri telah duduk pada kelas 8, mereka sudah boleh keluar dan menggunakan HP, juga merokok sudah diperbolehkan, ke istimewaan kelas 8 ini di sebabkan para santri umumnya telah masuk dalam usia dewasa, sebagian sudah diangkat menjadi guru untuk para santri di kelas 0 hingga 7 oleh pimpinan Dayah.

Abu Cut menjelaskan, Dayah Ule Titi mengadakan kelas Tajhizi untuk memberi waktu yang lama kepada para santri dalam belajar kitab, mereka belajar kitab yang masih berbaris dahulu di kelas Tajhizi agar nanti tidak kaget lagi ketika masuk ke tahab kitab tanpa baris.

Kelas Tajhizi ini dimaksudkan untuk memperpanjang waktu belajar kitab tanpa baris, karena ketika masuk pada kelas I juga masih belajar kitab tanpa baris, kelas Tajhizi memiliki 4 lokal, setiap lokal diasuh oleh 5 orang guru.

Para santri yang masuk ke kelas Tajhizi umumnya telah menyelesaikan pendidikan pada Sekolah Dasar (SD), tetapi itu tidak harus, mereka yang sudah dewasa juga boleh masuk pada kelas Tajhizi sebagai kelas pemula di Dayah Ule Titi.

Untuk masuk kelas Tajhizi, para santri di uji membaca al qur,an secara baik, kalau tidak lulus, mereka tetap di terima, dan diarahkan ke anak cabang Yayasan Dayah Ule Titi yang lain, saat ini sudah memiliki 36 cabang diseluruh Aceh, demikian Abu Cut.

Pelajaran yang diberikan pada kelas Tajhizi para santri mulai belajar Qur,an, fiqih, tauhid, tasawuf, kitab-kitab alat (nahu +syaraf), qira,ah, lauradh, sejarah nabi, kitab ahlak dan kitab melayu lainnya.

Kelas selanjutnya belajar kitab yang lebih tinggi, seperti kitab matan taqrib untuk kelas I, kitab Bajuri untuk kelas II, kitab Iyannah (jilid 1-2) untuk kelas III, kitab Iyannah (jilid 3-4) untuk kelas IV, kitab Mahali untuk kelas V, kelanjutan kitab Mahali untuk kelas VI, melanjutkan kembali kitab Mahali untuk kelas VII.

Pada kelas VIII para santri yang sebagian mereka sudah menjadi guru untuk kelas dibawahnya, sudah belajar kitab tinggi seperti Fathul Wahab dan Bujairimi dibawah bimbingan langsung Abu Athailah. Sebuah kelas khusus juga dibuka untuk masyarakat yang belajar pada malam hari.

Manyoritas santri yang belajar pada Dayah Ule Titi berasal dari Aceh, sebagian dari luar daerah dan ada yang berasal dari Malaysia, para santri yang berasal dari Malaysia sebelumnya mencapai 1 kabilah, namun kini hanya tinggal 3 orang lagi, mereka kembali ke negaranya karena kondisi konflik di Aceh, jelas Abu Cut.

Sekarang banyak tamu Malaysia sering datang ke Dayah Ule Titi, mereka punya rencana untuk membawa santri ke Dayah Ule Titi, jelas Tgk.Muhammad Rizal.

Secara keseluruhan Dayah Ule Titi memiliki asrama putra dan asrama putri, dengan jumlah bilik 135 buah, setiap bilik mampu menampung 4-16 santri, memiliki 23 lokal, 7 buah bale beut dan sebuah mushalla yang juga difungsikan untuk kelas mengaji, karenanya terkadang pengajian di mushalla dilakukan di pojok-pojok, sesekali bila ada santri yang ingin membaca lebih keras bias saja mengusik kelas lainnya di pojok lain.
Syukran...

Abu Hasballah Keutapang Ulama dari Pedalaman Nisam

1

Harian Moslem - Dipedalaman Nisam, diantara apitan pegunungan dan hamparan Sawah, tepatnya di desa Keutapang, disanalah seorang ulama sufi Tgk.Hasballah Ali mengabdikan ilmu pada sebuah Dayah Salafi bernama Darut Thalibin, setelah pulang mengembara dari satu Dayah ke Dayah lainnya menuntut ilmu kepada berbagai ulama.

Sosok Hasballah muda sebagai ulama sudah mulai terlihat ketika dia meninggalkan Nisam seusai menamatkan sekolah rakyat (SR), suatu pagi masih dalam basahan kesejukan embun pegunungan, lelaki itu menempuh perjalanan jauh, meninggalkan negeri Pase, menyinggahi Kuta Raja, lalu mendaki keangkeran gunung Geurute.



Disanalah, dibawah kaki Geurute, di pesisir Samudera Hindia, pada sebuah Dayah Salafi bernama BUDI (Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah) Lamno, Hasballah muda menetapkan pijakan kaki, dia memilih menuntut ilmu pada ulama dinegeri Daya, Abu Ibrahim Lamno.

Meski sering terlihat tertidur ketika sedang mengikuti pengajian, Abu Hasballah tidak lazimnya manusia lain, dia langsung bisa mengulang membacakan kitab ketika sang guru meminta, “beliau langsung bisa, ujar salah seorang teman sepengajian.”

Bakat dan kecerdasan Hasbalah terlihat jelas di pesantren Mudi Lamno, tidak heran seusai melalui kelas enam pengajian, dirinya sudah dipercaya mengajar para santri pada kelas dibawahnya ketika guru yang bertugas berhalangan.

Kepercayaan yang diberikan kepada Abu Hasballah ketika muda, merupakan sebuah pengakuan terhadap kecerdasan lelaki dari negeri Pase itu oleh para guru di negeri Daya, berbeda dengan kelaziman Tgk.rangkang (guru) yang lain, harus mempersiapkan dahulu materi pengajian, tidak demikian bagi Hasballah, dia cukup hadir diantara para santri, lalu langsung mengajar, semua materi kitab mengalir lancar dari kefasihan lidah putra Pase tersebut.

Selama mengikuti pendidikan di negeri Daya, Abu Hasballah juga sempat menjadi buruh tani bersama para santri lainnya pada sawah penduduk, pada masa panen raya, Hasballah muda menyingsingkan lengan, memegang sabit memotong setiap jumput padi dipersawahan Lamno, dari hasil pekerjaan itulah dirinya membiayai hidup selain mendapat infaq dari para penduduk.

Begitulah sekelumit perjalanan Abu Hasballah dimasa muda, pada tahun 1983 dirinya kembali ke Nisam atas permintaan penduduk setempat untuk memimpin Dayah Darut Thalibin, sebuah Dayah yang didirikan ayahanda beliau bersama masyarakat setempat.

Perjalanan pulang kekampung halaman itu sendiri juga membawa sebuah cerita unik, tepatnya pada 27 Sya,ban, Abu Hasballah tidak langsung pulang ke Keutapang, karena didalam perjalanan itu ketika melintas disebuah desa dia melihat ada kegiatan “Peh Rapai,” padahal malam itu bertepatan dengan perayaan agama lain, jadilah Abu Hasballah meneruskan ke Panton Labu, baru kemudian dia pulang ke Nisam.

Ditengah kehadirannya mengajarkan kalam Allah di pedalaman Nisam, Abu Hasballah mendapatkan jodoh ditanah kelahiran, seorang dara Pase Mursyidah binti H.Nurdin Wahid, putri pemuka masyarakat setempat, bersedia disunting Abu Hasbalah, padahal saat itu usianya sudah tidak muda lagi, “lon pike hana so tueng le,” (saya pikir tidak ada lagi yang mau), cetus Abu Hasballah menanggapi perkawinannya itu.

Kehadiran Abu Hasballah membina pengajian kemudian terusik pada penghujung tahun delapan puluhan, pergolakan berdarah antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Jakarta pecah, perang itu mengusik ketenangan Nisam, kesejukan embun pagi di rona subuh berubah menjadi ketakutan.



Ulama Sufi Tgk.Hasballah Ali
Diantara kecemasan penduduk itulah Abu Hasballah tetap bersama masyarakat, warga kala itu sudah tidak berani lagi turun ke sawah, kebun ditinggalkan, sebuah kegelisahan muncul oleh adanya sebuah anggapan, orang yang ke sawah dan berkebun dianggap sebagai informan pihak yang bertikai.

Dikala itulah dengan sendirinya Dayah Darut Thalibin menjadi tempat pengungsian warga, diantara rasa takut para warga terhadap kondisi perang, Abu Hasballah memobilisasi bantuan kepada para pengungsi dengan dibantu oleh para santri dan masyarakat lain.

“Saya hanya membantu meringankan beban musibah yang melanda saudara-saudara saya,” ujar Abu Hasballah suatu ketika dengan penuh kerendahan hati, begitulah kehadiran Abu dari pedalamaman Nisam ini dalam menganyomi masyarakat.

Bagi masyarakat setempat, Abu Hasballah diyakini memiliki Karamah, sosok Abu hanya bisa ditemui dengan niat yang baik, pernah terjadi beberapa orang yang ingin bertemu Abu tidak kesampaian, walaupun waktu pertemuan sudah direncanakan, tetapi ada saja yang menyebabkan pertemuan itu gagal terwujud, kata Abu Hamidan, seorang yang sangat dekat dengan Abu Hasballah Keutapang.

Abu Hasballah juga dianggap bisa memprediksi kelebihan seseorang sejak lahir dan kesuksesan seseorang dalam meniti karir, masyarakat juga percaya air rajahan Abu bisa meredam kenakalan anak-anak dan remaja, karenanya Abu Hasballah membuat sebuah bak yang khusus berisi air rajahan untuk penduduk yang datang saban waktu.

Syukran...

Abon Sudir, Ulama Ahli Ilmu Falaq Alumni Daya MUDI Samalanga

1

Abon Sudir, nama yang melekat dikalangan masyarakat Jeunib dan Samalanga, meski dia terlahir dengan nama Sudirman bin Arifin 65 tahun lalu, di Gampong Meunasah Reudep, Kecamatan Pandrah, Kabupaten Bireuen, masyarakat tetap memanggil dirinya dengan nama Abon Sudir.

Banyak orang tidak tahu, kalau dirinya adalah sosok ulama kharismatik jebolan Dayah Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah (MUDI) Mesjid Raya Samalanga.

Meski Abon Sudir dalam kondisi cacat kaki, namun sebagai ulama semangatnya tak pernah menghalangi untuk berbakti pada agama Allah, dalam mengajar masyarakat yang membutuhkannya. 
Abon Sudir 

Ulama yang satu ini punya tekad perjuangan untuk mengajar umat melalui pendidikan agama sampai ajal menjemput, begitu kata dia dalam sebuah pertemuan, saat Tabloid Moslem bertandang ke Dayahnya Miftahul Falah Al-Aziziyah Cot Batee Geulungku, Pandrah, Bireuen, beberapa waktu lalu.

Abon Sudir, sehari-hari mengisi waktu dengan kegiatan untuk kepentingan umat, dimana umat saat ini banyak membutuhkan siraman rohani darinya.

Terutama masyarakat dipedesaan Kecamatan Pandrah, Peulimbang dan beberapa tempat lainnya selalu mengharapkan, agar Abon Sudir bersedia memberi pemahaman keagamaan kepada mereka, atau dengan kata lain bimbingan rohani darinya.

Meskipun melihat ulama yang satu ini cacat kakinya dan sudah diamputasi, namun masyarakat masih mengharapkan Ilmu agama tetap mengalir darinya.

Saat ini kondisi fisik Abon Sudir sudah mulai menurun, namun pengabdiannya belum juga surut, masih tetap bersemangat untuk membimbing masyarakat, ujar seorang tokoh setempat.

Selain kegiatan di Dayah, Abon juga sering masuk kampung keluar kampung dalam memberi siraman rohani kepada warga disana, ujar salah seorang santrinya.

Dikalangan ulama Aceh Abon Sudir dikenal sebagai ahli hisab atau ru’yah, bahkan masyarakat juga mengagumi ilmu hisab dan ru’yah yang dilakukan Abon Sudir selalu tepat dan tak pernah lari dari sasaran.

Keahlian ilmu Falaqiah Abon Sudir memang mumpuni, sulit untuk dicari imbangannya. karena sesudah dia belajar agama pada Al-mukarram Abon Tgk Abdul Aziz bin Shaleh di Dayah Mudi Mesra Samalanga, lalu kemudian melanjutkan kembali pendidikan agama di Kampung Beurabo, Padang Tiji, membuat ketajaman ilmu hisab Abon sudir semakin meningkat.

Di kampung Beurabo, Abon belajar pada Dayah milik Tgk.Chiek Di Pante, yang bernama asli Tgk M.Yusuf, disana Abon Sudir belajar mendalami ilmu Falaqiah dalam bimbingan Tgk. Chiek Di Pante.

Selesai belajar ilmu falaqiah di Dayah kampung Beurabo, Abon Sudir juga memperdalam lagi ilmu Falaqnya pada Tgk Mustafa Simpang Mulieng, Aceh Utara. 

Dia juga memperdalam ilmunya dengan belajar pada Drs. Tgk. Ali Muda Lhokseumawe, sehingga ilmu hisab dan ru’yah yang diperoleh semakin meningkat. Dalam mengabdikan ilmu kepada masyarakat, Abon Sudir dengan mengandalkan kursi roda dan sepeda motor roda dua, diantar oleh muridnya turun keberbagai desa untuk memberi bimbingan agama. 

Dia mengajarkan berbagai kitab kuning (kitab gundul), baik dalam hal kupasan hukum Ilmu Fiqih, Tafsir al-Qur’an, Tauhid dan Tasauf serta berbagai kitab lainya tanpa memungut upah. “Ini semua sifatnya tulus ikhlas dan sukarela dalam mengajar mendidik masyarakat”, ujarnya.

Sedangkan di Dayahnya sebanyak 18 orang tenaga pengajar telah disiapkan, “bukan berarti Dayah terabaikan, namun pengawasan secara ketat terhadap santriwan dan santriwati tetap dalam pantauan, agar pendidikan di Dayah juga jangan sampai terabaikan,” ujar Abon Sudir Serius.

Dayah Miftahul Falah Al-Aziziyah yang terletak ditepi jalan negara, Kampung Meunasah Reudep, Pandrah, bila dilihat dari jalanan suasana komplek Dayah itu sangat bersih, meskipun asrama dan balai Dayah tempat menuntut itu sudah agak lapuk dimakan usia.

“Biarlah Balee tempat beut (balai pengajian)sudah lapuk, namun kualitas pengajian tetap harus lebih baik agar santriwan dan santriwati merasa puas dalam menimba ilmu disini”,ungkap salah seorang santri.

Abon Sudir mengakui, dalam keadaan cacat sudah tidak mampu untuk bergerak mencari dana pembangunan Dayah, lalu kemudian, juga tidak memiliki jaringan baik dengan instansi pemerintah, namun katanya, kalau ada pihak yang tulus mau membantu Dayah ini, Abon Sudir dengan senang hati bersedia menerima.
Syukran...

Ketua DPR Aceh dari Dayah Ke Panggung Politik

2

Pembawaannya tenang dan ramah, apalagi ketika mengenakan peci memang cocok sebagai ustad. Ketika kini mengalami transformasi menjadi anggota dewan, pembawaannya tidak banyak berubah.

Setiap kalimat meluncur dengan teratur dan penuh nada kesejukan, walaupun yang diperbincangkan merupakan masalah politik yang cukup pelik. Tidak heran dengan tugas berat yang diembannya sejak menjabat Ketua DPR Aceh, figurnya terkesan bersahaja.

Ketua DPRA, Tgk.H.Muharuddin, S.Sos.I 
Karakter yang dimilikinya juga menjadi modal penting, demi menghadapi berbagai persoalan sebagai wakil rakyat. Demikianlah sekilas sosok Muharuddin yang kini kembali menjadi anggota DPRA dari Partai Aceh untuk periode kedua. 

Perjalanan hidup pria kelahiran Lhokseumawe, 37 tahun ini sungguh berliku. Masa mudanya lebih banyak dihabiskan di pesantren, dari menuntut ilmu hingga mengabdi menjadi pengajar. 

Sempat punya cita-cita ingin kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, meski terganjal masalah biaya. Tidak tanggung-tanggung demi kuliah, dia rela hingga harus melanglang buana ke berbagi negara. 

Muharuddin yang lebih dikenal dengan Tengku Muhar, juga menyimpan kisah pilu saat harus dipenjara. Walaupun tidak pernah ikut bertempur dan pegang senjata, namun dirinya dituduh GAM.

Namun siapa menduga kiprahnya berjalan mulus di dunia politik hingga menjadi Ketua DPRA. Lantas mengapa setelah sukses menjadi anggota legislatif, dirinya belum tertarik untuk mencalonkan diri menjadi eksekutif ? 

Bagaimana kiatnya menghadapi berbagai persoalan saat menjadi wakil rakyat, terutama ketika harus bersentuhan dengan masyarakat dan konstituennya. Bagaimana pandangannya tentang dinamika kondisi Partai Aceh yang saat ini sedang disorot ? Simak kisahnya seperti yang dituturkan kepada Moslem di Komplek Sekretariat DPR Aceh di Banda Aceh, Senin (10/08) lalu.

Gagal ke Mesir
Seusai menamatkan SD Inpres di Seuneudon, dan SMP Alue Ie Puteh Kecamatan Baktiya, Muharuddin memutuskan melanjutkan pendidikannya ke pesantren. Awalnya sempat masuk ke Pesantren Darul Falah, Jeunib di Bireun selama 2 tahun.

Saat lebaran, abangnya yang tinggal di Jakarta membawa seorang mualaf dari Jawa Tengah. Karena umumnya Dayah Salafi menggunakan bahasa Aceh, akhirnya agar bisa bersama-sama menuntut ilmu memutuskan untuk pindah ke Pesantren Misbahul Ulum di Paloh. Di sini sistem pendidikan menggunakan Bahasa Indonesia, Inggris dan Arab selama 4 tahun. 

Posisi lokasi pesantrennya bersebelahan dengan Kompleks PT.Arun, sebuah perusahaan gas alam di Lhokseumawe. Dari sini dia melihat sebuah ketidakadilan, dan ketimpangan ekonomi yang begitu jauh antara pekerja, dan masyarakat sekitar. 

Alasan ini yang membuatnya kemudian mulai mengikuti ceramah yang dilakukan GAM. Lalu bergabung mengikuti latihan militer, dan memegang senjata. Namun demikian Muhar tidak pernah ikut bertempur di lapangan.

Selesai pada tahun 2000 seperti teman-teman yang lain sesama alumni, ia ingin juga menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar, Mesir. Namun karena berasal dari keluarga kurang mampu, sayang niat tersebut tidak kesampaian. 

Gagal melanjutkan kuliah, Muhar memutuskan untuk mengikuti tes Depag (sekarang Kemenag) hingga ke Jakarta. Walau hafalannya sudah 3 juz, sementara syarat diminta hanya 1 juz, Muhar tetap tidak lolos.

Gagal tes, Muhar ingin mewujudkan kembali keinginannya untuk kuliah. Dia ingin sekali menjadi sarjana atau mendapatkan titel Lc. Alasan inilah yang membawa perjalanan hidupnya hingga ke luar negeri, seperti Malaysia dan Thailand. 

Niatnya hanya satu, bisa mendapatkan beasiswa di negara maju dengan melalui suaka politik. Muhar terus mencari informasi dari teman-temannya berasal dari Aceh yang sudah berhasil.

Bahkan dia pernah tinggal di Timtin, demi mendapatkan suaka politik ke Australia. Karena sempat terbesit kabar, jika masuk dari Timtim akan lebih mudah. Tidak seperti yang dibayangkannya, ternyata untuk ke Australia tetap sulit. 

Hingga ada teman yang mengajaknya ke Kanada, hingga harus transit di Malaysia dan Thailand. Saat berada di Thailand untuk masuk ke Kanada, Selandia Baru dan Norwegia, waktu itu tinggal menunggu panggilan dari UNHCR. 

Ketika mendengar ada perundingan damai Coha (Cessation of Hosttilities Agreement), karena kangen dengan kampung halaman, dia memutuskan untuk kembali ke Aceh pada 2002. Sayangnya perundingan damai tersebut gagal, Aceh kembali diamuk perang.

Nyaris ke Nusakambangan
Akhirnya Muhar kembali mengajar di Pesantren sebagai tenaga honor daerah, dan sebagai ustad. “Waktu itu setelah gagal kembali ke Thailand, saya nikmati saja aktivitas mengajar di Pesantren”, kisahnya. 

Sembari mengajar, dia sering menjadi pemandu (guide), bagi wartawan asing yang ingin meliput seputar konflik. Seperti membawa mereka melihat pasukan janda di Batee Iliek, dan bertemu panglima GAM waktu itu, mendiang Abdullah Syafie.

Hingga suatu peristiwa mengubah jalan hidup Muhar, ketika menceritakan bagian ini dia mengingat waktunya dengan tepat. Waktu itu usai Jumat sekitar pukul 15.00 pada 25 Juli 2003, pesantren tempatnya mengajar di gerebek. Tanpa diduga dari sinilah awal kisah pilu itu bermula. Dia ditangkap dengan tuduhan sebagai GAM.

Perjalanannya yang pernah tinggal di Timtim, lalu ke Thailand dengan dugaan memasok senjata, dan sering membawa wartawan asing. Lengkap sudah alasan untuk menangkapnya.

Dibawa dari satu pos ke pos yang lain, hingga diadili untuk menjalani hukuman selama 2 tahun 6 bulan. “Alhamdulillah tidak sampai 3 tahun. Sehingga saya tetap berada di Lhokseumawe.

Karena waktu itu untuk tahanan GAM yang kena hukuman 3 tahun ke atas, maka akan di kurung di LP Nusakambangan”, kisahnya. 

Setelah bebas dari tahanan, dia mendapat tiket haji gratis. “Kalau pernah mendengar atau membaca di media ada santri yang masuk penjara itulah saya”, ujarnya.

Setelah damai pada 2005, Muhar kembali ke pesantren . Lalu saat GAM membentuk KPA (Komite Peralihan Aceh), oleh panglima KPA dia ditunjuk sebagai kepala biro penerangan Wilayah Pase.

Namun aktivitasnya sehari-hari tetap mengajar, dan menjadi ustad. Pada saat berdiri Partai Aceh, dia bergabung hingga pada pemilihan caleg pada 2009, dirinya ditunjuk sebagai salah satu calon legislatif dari daerah pemilihan Aceh Utara. 

Hingga akhirnya Muhar terpilih dengan jumlah suara 3 terbanyak di dapilnya, dan duduk sebagai anggota DPRA. Pada 2014 mencalonkan diri lagi, dan terpilih untuk periode kedua. Saat ditanya apakah ada keinginan untuk maju menjadi calon eksekutif seperti menjadi bupati.

Muharuddin yang kini sedang mengambil program master pada Jurusan Manajemen Unsyiah menggeleng sembari mengatakan, “Belum kalau ke sana”. Kalau begitu apakah dirinya tetap memilih menjadi anggota dewan ? Lagi-lagi dia menjawab tidak lagi, dan cukup dua periode ini saja.

Lalu bagaimana pengalamannya selama menjadi wakil rakyat, terutama ketika menghadapi konstituen dari daerah pemilihannya. Dia mengungkapkan kerap banyak permintaan dari mereka. “Semua tetap diterima dan berusaha untuk dibantu”, ujar alumnus Sosial Islam Universitas Cut Nyak Dhien Medan ini. 

Saat ditanya apakah berat menjadi seorang anggota DPRA. Sambil tersenyum dia berujar “Biasalah banyak orang yang mengutarakan kebutuhannya, itu semua harus didengar, dan dicarikan solusi.”

Saat ini tercuat isu tentang kondisi internal Partai Aceh yang cenderung mengarah perpecahan. Sebagai bagian dari Partai Aceh, ia memiliki pandangan sebagai berikut. “Masalah seperti itu biasa terjadi dalam sebuah organisasi seperti partai.

Dalam keluarga saja bisa terjadi beda pendapat apalagi ini sebuah partai”, ujarnya. Muharuddin berharap masalah komunikasi yang tersumbat pada partainya bisa terbuka.
Syukran...

Abu Tumin di Mata Umat

0

erlahir dari aliran darah ulama, menjejak kaki pertama di bumi juga ditanah Dayah,  begitulah riwayat ulama dari Blang  Blahdeh, Bireuen, Abu Tumin, dari sejak lahir dia sudah berada di lingkungan Dayah (pesantren), hingga usia senjapun kakinya tak berpindah dari tanah Dayah.


Sekilas Abu Tumin tampak sebagaimana lelaki Aceh lainnya, berkulit hitam, kurus dan berambut lurus, memiliki tinggi sekitar 1,75 meter, wajahnya khas Aceh, dengan senyum yang tak pernah lepas, meski tak mudah untuk melihat deretan gigi lewat sekilas senyum yang diperlihatkan Abu Tumin.
Abu Tumin, adalah sosok ulama kharismatik di Nanggroe Aceh yang sangat dicintai masyarakat. Nama lengkapnya Teungku Muhammad Amin bin Mahmud, cucu almarhum Almukarram Tgk H Hanafiah, pendiri Pesantren Al-Madinatuddiniyah Blang Blahdeh, Bireuen.
Sudah sejak dari kecil, Abu Tumin sudah memperlihatkan minat besar dalam belajar agama, dirinya tampak rajin belajar semua bidang ilmu agama di pesantren, tak heran ketika dewasa sangat tegas dalam memberi sesuatu keputusan yang menyangkut dalam hal fatwa agama.
Karena itu, Abu Tumin Blang Blahdeh termasuk salah seorang ulama Aceh yang diperhitungkan dan menjadi rujukan untuk semua orang.
Kepiawaian Abu Tumin dalam memberi fatwa agama, telah mengundang perhatian besar dari semua pihak,  khususnya pihak pemerintah Jakarta, baik itu Menteri maupun Panglima Militer, apabila datang ke Aceh belumlah sempurna tugasnya, apabila belum berjabat tangan serta silaturahmi dengan ulama kharismatik ini.
Melalui masa kecil di Dayah Blang Blahdeh, Muhammad Amin kecil menimba ilmu langsung dari orang tuanya maupun pada sang kakek yang  dikenal “Teungku Tua”, mulai dari belajar A Lif Ba, hingga menamatkan Juz Amma, melanjutkan ke Al-Qur’an Nur Karim,  hingga memulai belajar kitab-kitab dasar dari ilmu agama.
Beberapa waktu lamanya Muhammad Amin sudah pada kesimpulan untuk melanjutkan menimba ilmu yang lebih tinggi, setelah dia memandang cukup sudah sebagian ilmu dari Dayah kakeknya untuk mengantar dirinya memahami kitab-kitab lanjutan yang lebih tinggi.
Pada suatu ketika, dipagi hari, dibawah sinar matahari yang cerah, takdir telah mengantarkan pemuda belia Muhammad Amin melangkahkan kaki pergi merantau, tujuannya tanah bertuah Labuhan Haji,  perjalanan jauh dilakukan ke Aceh Selatan, melintasi sungai, melewati pegunungan, mendaki keangkeran Gunung Paro, Gle Kulu, Puncak Geurute dan beberapa gunung di barat selatan Aceh harus dilalui Muhammad Amin muda.

Perjalanan jauh harus ditempuh, pada masa dengan kondisi jalan yang masih apa adanya, sebagian besar belum beraspal, sungai belum memiliki jembatan, sehingga rakitlah untuk kenderaan penyeberangan, jalan  yang ditempuh Abu Tumin muda antara Bireuen – Tapak Tuan menghabiskan waktu perjalanan berminggu-minggu lamanya.
Tak heran, waktu itu antara Bireuen dan Tapaktuan jalannya masih berlobang dan belum diaspal, belum lagi lintasan barat selatan Aceh masih dalam kondisi penggunaan rakit, ditambah suasana negara baru saja lepas dari penjajahan dengan kondisi perang antara pejuang Darul Islam/ TII melawan pemerintah Jakarta.
Pada masa serba penuh persoalan itulah Abu Tumin menempuh perjalanan religius kekawasan selatan Aceh, menuju ke sebuah Dayah ditepi pantai Labuhan Haji, disanalah Al-Mukarram Syeh H.Muhammad Waly Alkhalidy( Abuya Muda Waly) memimpin sebuah dayah Salafi dengan santri yang berasal dari berbagai wilayah di Aceh.
Diantara deburan ombak dan hembusan angin pantai Samudera Hindia, disanalah Abuya Muda Waly menurunkan ilmu agama kepada muridnya, tidak hanya untuk kalangan manusia, konon juga Abuya membuka pengajian malam untuk bangsa Jin dibagian belakang pondok pesantren Dayah Darussalam-Labuhan Haji.
Tak jelas berapa lama Abu Tumin belajar agama atau  istilah “meudagang” dinegeri itu. Dan yang pasti, pada tahun 1958 beliau kembali ke Negeri Jeumpa, Blang Blahdeh, dari menuntut ilmu dan meneruskan  memimpin Dayah yang telah dijalankan ayahandanya  almarhum Tgk Sjech Mahmud, atau lebih dikenal dengan nama Teungku Muda.
Abu Tumin kini adalah merupakan tempat rakyat Aceh bertanya berbagai permasalahan, khususnya menyangkut dalam bidang keagamaan, sekaligus sering rakyat meminta pendapat bila sudah terbentur dengan berbagai permasalahan, baik dalam urusan rumah tangga, dalam bidang kemasyarakatan, dan bahkan fatwa agama sekalipun bila sudah terbentur dengan berbagai permasalahan menyangkut aqidah.
Ulama yang dicintai umat itu, dimasa usianya menjelang senja berbagai kegiatan keagamaan terus giat dilakukan, apakah dalam hal tausyiah agama, pengajian, tafsir Qur’an dan hadist,  baca do’a untuk keselamatan , mengupas berbagai isi kitab dan bahkan ikut undangan acara penyambutan tamu negara yang datang ke Aceh.
Sedangkan kegiatan untuk hari Sabtu dan Minggu, Abu Tumin selalu memberi pengajian untuk ulama Dayah, yaitu di Peureulak  Aceh Timur, Lhok Seukon dan Krueng Geukueh,  Aceh Utara, juga di Mesjid Agung Kota Bireuen dan Mesjid besar  Kuta Blang Bireuen, Kembang Tanjung, Pidie, Geumpang Pidie , Abdya, Aceh Selatan, Mubahasah
Ulama Dayah Aceh Barat ( MUDAB) dan mengupas berbagai isi kitab di Dayah Darul Munawwarah, Abu Kuta Krueng, Pidie Jaya.
Menurut Tgk Khaidir bin Tgk Jailani, ketua Pengurus Dayah  Al-Madinatuddiniyah Babussalam menyebutkan, lazimnya kalau dirumah Abu Tumin  selesai shalat subuh, yaitu berzikir sampai waktu untuk sarapan pagi, kemudian pukul 09.00 pagi mulai mengajar pengajian untuk  santri sampai waktu menjelang  shalat zuhur.
Kemudian selesai shalat zuhur, dia Istirahat sebentar, itupun bila tak ada tamu yang datang. Tapi biasanya Abu  selesai istirahat , terlihat selalu sibuk menerima tamu yang datang untuk berbagai keperluan sampai menjelang magrib, kata Tgk Khaidir.
Dengan demikian, hampir tak ada waktu baginya  untuk bersama keluarga dan cucunya tercinta, karena masyarakat masih banyak membutuh bimbingan dari Abu Tumin.
Dalam berbagai kesempatan Abu Tumin selalu terlihat dalama deretan bersama ulama lain, hadir dalam kegiatan pemerintahan Aceh, di Kabupaten, baik yang resmi maupun tidak  bersama Abu Usman Kuta Krueng, Abu Hasanoel dan juga sejumlah ulama lainnya selalu tampak duduk dibarisan depan.
Sekarang kelihatan ulama kharismatik ini fisiknya sudah kian agak sedikit melemah. Bankan beberapa waktu yang lalu, beliau pernah di opname di Hospital Tawakkal, Kuala Lumpur, Malaysia, akibat sakit yang diderita.
Namun demikian,” sekarang Abu Tumin sehat-sehat aja, walaupun fisiknya sudah agak menurun, itu faktor umur yang sudah lanjut”, ujar salah seorang santrinya.
Syukran...
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com